Dalam benak warga Dukuh Kali Jalin Desa
Patalan, Kecamatan
Blora, Kabupaten Blora
berharap jalan longsor di depan rumahnya segera dibenahi.
Namun, melihat kondisi yang ada warga pasrah. Meski tanah masih terlihat basah sisa guyuran hujan
dua hari sebelumnya.
Dua perempuan terlihat bercengkerama di
depan pintu rumahnya. Perempuan yang terlihat lebih muda memangku anak laki-laki
kecil. Tatapan kedua perempuan itu memandang ke depan. Ke arah jalan yang
longsor.
Begitulah Marni, (25 th) dan Sarmi, (50 th), dua perempuan warga RT
02/ RW 11 Dukuh Kali Jalin Desa Patalan Kecamatan Blora,
saat ditemui kontributor jateng newsroom, pagi ini
(Kamis, 21 Juni 2012), keduanya sedang duduk-duduk di rumah mereka.
Ibu – anak itu memandangi halaman rumah
mereka yang saat ini menjadi jalan darurat. Ya, sejak jalan di depan rumahnya
longsor, keduanya harus merelakan tanah pekarangan di depan rumah sebagai jalan
umum.
’’Semula kami pagari, hanya kendaraan
roda dua yang boleh lewat. Kami khawatir longsor makin luas,’’ ujar Marni,
dengan bahasa Indonesia yang agak kurang lancar. Upayanya untuk melindungi tanahnya dari
longsor itu malah diprotes warga yang lain. Sehingga, dia pun menyerah. Saat
ini, jalan di depan itu menjadi jalan darurat umum. Semua kendaraan bisa lewat.
Bahkan, truk sekalipun. Saking dekatnya jarak jalan dengan pintu rumahnya, jika
ada kendaraan besar yang lewat, kendaraan itu tepat di depan hidung mereka.
Keluarga ini, adalah keluarga yang
paling dekat dengan titik longsor. Jalan di depan rumahnya sudah ambrol. Hal
itu karena tebing sungai juga ambrol. Padahal sebelumnya, sebelum jalan, ada
halaman depan rumah yang cukup luas. Kemudian baru jalan kampung. Di seberang
jalan masih ada tanah lapang sekitar lima sampai tujuh meter sebelum tebing
sungai. Namun semua habis setelah diterjang longsor. ‘’Sehingga halaman depan
rumah kami juga habis, karena dibuat jalan darurat,’’ tuturnya.
Tebing itu longsor pada Desember tahun
lalu, setelah diterjang hujan dan luapan air sungai. Kala itu, jalan desa yang
menghubungkan desa ini dengan desa sekitarnya juga ambles sepanjang 100 meter
dengan kedalaman sekitar 50 meter. Praktis transportasi mandek. Hanya kendaraan
roda dua yang bisa lewat.
Melihat kondisi itu, warga menjadi
was-was. Setiap malam tidak bisa tidur, apalagi kalau hujan deras turun. Mereka
khawatir longsoran akan bertambah. Keluarga Sarmi, yang paling dekat dengan
titik longsor yang paling panik. Bahkan, Sarmi, yang punya penyakit jantung,
sampai jatuh sakit karena sangat khawatir dan takut.‘’Kami sempat mau pindah
agak ke belakang. Di sana sudah dipondasi,’’ ungkap Marni, anak perempuan
Sarmi.
Hal yang sama juga dilakukan warga
lainnya. Namun, rencana pindah itu diurungkan, ketika perangkat desa setempat
memberitahukan kalau tebing yang longsor akan diperbaiki. Sehingga tanah yang sudah disiapkan dan sudah dipondasi
tak jadi ditempati. Pada tahun lalu, memang benar ada proyek perbaikan tebing itu.
Proyek tersebut selesai pada Desember 2011.
Namun, awal Januari 2012, bangunan yang
baru jadi kembali ambrol. Hingga saat ini, bangunan itu belum selesai
diperbaiki. Malah beberapa hari ini tukang bangunan yang biasanya bekerja juga
berhenti bekerja. Menurut sejumlah warga, berhentinya kerja para tukang itu
karena permintaan kontraktor. Sebab batu untuk bangunan habis, sedangkan
dananya juga belum ada. Namun, harapan warga, jalan itu bisa kembali
diperbaiki. ‘’Tentu kami ingin jalan desa ini kembali normal,’’ tutur Marni.
Karena terlalu lama dicekam takut dan
khawatir tebing akan ambrol makin luas, dan keluarganya tidak jadi pindah.
Marni dan keluarganya seolah mati rasa. Kedua perempuan ini mengaku pasrah.
Ketakutan dan kekhawatirannnya sudah tak sebesar dulu lagi. Keluarga ini
akhirnya menerima apa yang terjadi itu sebagai takdir yang harus dijalani.
Dia juga sudah tidak mempersoalkan
tanahnya terus menjadi jalan darurat umum. Sebab, upaya dia untuk membatasi
kendaraan yang lewat tetap kalah dengan keinginan pengguna jalan. Meski di
tanahnya sendiri, justru keluarga ini diprotes saat memasang penghalang agar
hanya kendaraan kecil yang lewat. ‘’Dari pada jadi tukar padu, saya relakan saja. Kami pasrah dengan semua ini.
Daripada merasa was-was terus,’’ tandasnya.
Jalan Longsor Terbengkelai
Jalan kampung di Dukuh Kalijalin Desa Patalan Kecamatan
Blora yang longsor sepanjang sekitar 100 meter dan lebar 50 meter dibiarkan
terbengkelai. Padahal mengancam belasan rumah warga sekitar. Jalan yang longsor akhir tahun 2011 tersebut
saat ini masih dalam masa pemeliharaan. Namun proyek senilai Rp 462,6 miliar
tersebut tidak diteruskan pekerjaannya. ‘’Pekerjaan sudah berhenti sejak Senin
(11/6) lalu, ‘’ ujar Sugito, warga setempat
(21
juni 2012)
pagi ini.
Dia mengatakan, sebelumnya jalan yang longsor itu
diperbaiki. Namun longsor lagi. Longsoran itu akibat tebing sungai di
sampingnya juga ambrol. Sehingga kemudian dipasangi pondasi untuk menahan
tebing agar tidak ambrol. Sebagian juga dipasangi batang bambu yang ditanam di
sepanjang jalan longsor. ‘’Pemborong meminta berhenti dulu karena batunya
habis,’’ ujar Sugito yang juga ikut bekerja di proyek itu.
Pantauan di lokasi pagi tadi, memang sudah
tidak ada kegiatan lagi. Hanya, di lokasi ada tumpukan batu dan material.
Menurut warga, batu hitam itu akan digunakan untuk perbaikan jalan. Sedangkan,
untuk pondasinya menggunakan batu biasa. Sebagian batu mengambil dari bekas
longsoran yang tercebur ke sungai. Namun, entah karena apa, perbaikan tidak
diteruskan. Padahal, perbaikan itu masuk masa pemeliharaan proyek. Masa
pemeliharaan habis pada akhir Juni ini. Melihat kondisi yang ada, dimungkinkan
waktu yang tersisa tidak akan mencukupi untuk melakukan perbaikan.
‘’Informasinya karena dananya habis,’’ tambah Marni, warga yang lain.
Diberitakan sebelumnya, proyek penanganan longsoran
Kalijalin itu nilai kontraknya Rp 462,6 juta. Proyek dikerjakan CV
Adhi Cipta Blora, dan selesai 16
Desember tahun lalu. Saat ambrol pada 30
Desember, proyek tersebut masih dalam masa pemeliharaan. Longsornya jalan yang
baru diperbaiki itu, diduga karena buruknya kualitas proyek fisik. Namun, dana
proyek tersebut sudah dicairkan 100
persen.
Kepala
Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Blora Dewi Tejowati menjelaskan, kerusakan
proyek selama masa pemeliharaan adalah tanggungjawab kontraktor. Karena itu, perbaikan longsoran jalan yang sudah
mengancam beberapa rumah warga setempat itu masih tanggungjawab CV Adhi Cipta
sebagai kontraktor. Sehingga, dia meminta agar CV Adhi Cipta segera memperbaiki
jalan yang longsor itu.
Sementara Tuhu Setiyono kontraktor dari CV Adhi Cipta
yang mengerjakan proyek itu saat dikonfirmasi mengelak. Dia mengaku tidak tahu
menahu soal proyek di Kali Jalin tersebut. ‘’Kamu salah, karena saya tidak
tahu,’’ katanya.
Akibat jalan longsor sepanjang 100 meter dengan
lebar skeitar 50 meter, warga Dukuh Kali Jalin Desa Patalan Kecamatan Blora
resah. Sebab, longsoran itu sudah mendekati permukiman warga. Saat ini saja,
tercatat tujuh rumah warga dan satu mushala sudah sangat dekat dengan longsoran
sehingga pemilik rumah was-was. Sehingga warga berharap perbaikan segera dilakukan. (**jateng newsroom_humas blora)