Penyandang masalah
kesejahteraan sosial (PMKS) tidak akan punah sebelum kiamat datang, sebab kesejahteraan sosial sulit
dicapai bila tidak ada sinergisitas antara berbagai elemen dan sikap mental
individu yang lemah.
Hal tersebut disampaikan dosen IAIN Walisongo Semarang
Drs M Masrur MAg saat menyampaikan makalah pada kegiatan koordinasi dan
fasilitasi program penanggulangan kemiskinan secara sinergis tingkat Badan
Kordinator Wilayah (Bakorwil) III, di Pendopo Bupati Brebes, baru-baru ini.
Termasuk terjadinya musibah bencana alam, akan memicu
meningkatnya permasalahan sosial yang makin kompleks, baik dari kuantitas
maupun kualitasnya. Namun
berkembang maju atau kayanya suatu Negara tidak tergantung pada umur Negara,
sumber daya alam, ras/warna kulit maupun kecerdesan. Yang lebih berpengaruh
hanyalah karakterisktik kaya mental.
Dicontohkan, India dan Mesir sudah 2000 tahun tetapi
masih tetap miskin sampai kini. Sebaliknya, Singapura, Australia, Kanada dan
Selandia Baru sudah dikelompokan sebagai Negara maju. Jepang hancur tapi
bangkit, swiss negara kecil tapi bank-banknya sangat dipercaya. “Negara-negara
maju itu, memiliki karakteristik kekayaan mental yang luar biasa,” terang
Masrur.
Menurutnya, karakteristik mental itu meliputi disiplin
dan menghargai waktu, tanggung jawab, mematuhi hokum, cinta pada pekerjaan
(dedikasi), mau bekerja keras, integritas, kemauan untuk belajar, kejujuran dan
sifat serta sikap positif lainnya.
Menjadi tantangan sendiri bagi Tenaga Kesejahteraan
Sosial Kecamatan (TKSK) dalam upaya mensukseskan kesejahteraan social. Dalam
catatan Badan Pusat Statistik Tahun 2010 dari jumlah penduduk Jateng 32.380.687
terdapat PMKS Jateng 19,53 persen (6.322.494).
Dalam setahun, Pemerintah
provinsi Jawa Tengah hanya mampu mengentaskan 5 persen (700 ribu orang)
dari jumlah PMKS yang sekitar 14 juta
lebih. Jadi, jika Gubernur menjabat selama lima tahun, maka dia baru mampu
mengentaskan PMKS 25%. Sedangkan bencana dan permasalahan sosial terus bertambah dan
makin kompleks.
“Memang terlalu berat tugas Gubernur atau Bupati karena
kondisi riil dilapangan demikian adanya,” Siapapun
akan menghabiskan uang bila diberi seseorang, karena bukan atas jerih payah.
Padahal yang perlu dibangkitkan adalah membangkitkan sikap dan sikap mental
untuk kesejahteraan rakyat,” ungkap Masrur yang juga Ketua Pusat Pengkajian
Mutu Akademik IAIN Walisongo Semarang.
Sementara angka kemiskinan di Brebes, berdasarkan sensus
penduduk tahun 2010 ada 23,01 persen dari 1,7 Juta. Brebes menempati nomor 4
terbawah dari Purbalingga, Rembang dan Wonosobo.
Kondisi PMKS Jateng tahun 2011, Anak Terlantar, jalanan
dan nakal sebanyak 138.324 orang, Penyandang cacat (236.304), Wanita rawan
social ekonomi (163.037), Lanjut usia terlantar (190.165), HIV/AIDS (846), Tuna
Susila (5.091), PGOT (5.546) dan Eks Napi (13.282).
Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Dra Noor Chayati MSi
menjelaskan, kegiatan rakor digelar dalam upaya memfasilitasi program-program
penanggulangan kemiskinan secara sinergis melalui Tenaga Kesejahteraan Sosial
Kecamatan (TKSK). Kegiatan diikuti 105 perwakilan dari Kabupaten/Kota se
wilayah eks Karesidenan Pekalongan dan Banyumas.Kegiatan dibuka Bupati Brebes H Agung Widyantoro SH MSi
yang diwakili Asisten 3 Sekda Brebes Drs Suprapto. **www.jatengprov.go.id/newsroom_HumasBrebes