Sragen- Lama
dan sulit dalam pembuatannya membuat batik sogan berharga lebih mahal bila
dibandingkan dengan batik yang menggunakan pewarna kimia. Biasanya harganya dua
hingga tiga kali lipatnya. Meski begitu, batik sogan tetap mempunyai banyak
kelebihan bila dibandingkan dengan batik pewarna kimia. Sudah puluhan tahun tak pernah sepi dari peminat batik. terutama golongan menengah keatas.
Demikian
diungkapkan pemilik Rumah Produksi Batik milik Harso Suwito Harno itu
terlihat sama saat di jumpai di rumahnya di Desa Pilang Kecamatan Masaran. Dia
menceritakan, bahan pewarna yang dia gunakan berasal dari bahan-bahan alami.
Antara lain kulit dan kayu pepohonan, mulai dari pohon secang, tingi, jambal
dan tegeran. Pohon-pohon ini biasanya tumbuh di pulau Kalimantan.
Batik
yang diproduknya terlihat
sama dengan batik-batik lainnya. Batik yang dicelup menggunakan pewarna alami memang lebih cepat pudar
dibanding dengan menggunakan pewarna kimiawi, karena batik dengan pewarna alami
tidak mengalami proses fiksasi (penguncian warna) yang maksimal.
Seberapa tahan warna itu
pudar ? Harno menjelaskan ’’Kalau perawatannya benar, bisa tahan puluhan tahun.
Asalkan dicuci dengan sabun lerak, dijamin warna akan tetap muncul, bahkan
semakin bagus, jelasnya.
Namun jika ditelusuri proses
pembuatannya, barulah ditemukan perbedaan yang sangat mendasar. Batik tersebut
ternyata dibuat dengan menggunakan pewarna alami.
Batik Sogan
Batik yang menggunakan
pewarna alami ini biasanya di sebut Batik Sogan. Batik ini merupakan cikal
bakalnya kain batik. Nuansanya klasik dengan warna dominan variasi dari warna
coklat. Dinamakan batik sogan karena pada awal mulanya, proses pewarnaan batik
ini menggunakan pewarna alami yang
diambil dari batang kayu pohon soga tinggi. Penggunaan pewarna alami ini
menyebabkan warna batik terasa lebih sejuk. Itu sebabnya, batik warna alami
lebih diminati wisatawan mancanegara daripada batik dengan pewarna sintetis.
Batik Sogan merupakan jenis
batik yang identik dengan daerah keraton Jawa yaitu Yogyakarta dan Solo,
motifnya pun biasanya mengikuti pakem motif-motif klasik keraton. Sogan Yogya
dan Solo juga dapat dibedakan dari warnanya. Biasanya sogan Yogya dominan
berwarna coklat tua-kehitaman dan putih, sedangkan sogan Solo berwarna
coklat-oranye dan coklat.
Batik
sogan yang klasik ini memang selalu banyak peminatnya dan langgeng tanpa
mengenal jaman, selalu ada pecinta jenis batik ini, meski sekarang ini banyak
motif batik modern.
Lebih Sulit Pengerjaanya
Jika batik yang menggunakan
pewarna kimia, proses pewarnaanya paling lama hanya membutuhkan waktu satu
minggu. Batik Sogan bisa membutuhkan hingga waktu lebih dari satu bulan untuk
proses pewarnaanya. Batik yang menggunakan pewarna kimia, pada proses
pewarnaanya hanya membutuhkan satu kali celupan pada cairan pewarna. Namun
berbeda dengan batik sogan yang membutuhkan hingga 30 kali celupan pada air
pewarna alaminya. Satu kali celupan prosesnya membutuhkan waktu satu hari, jadi
total 30 kali celupan membutuhkan waktu hingga 30 hari. Lama dan sulit itulah
yang membuat perajin batin sogan kian jarang ditemui.
Lelaki setengah baya yang
biasa di panggil Harno ini menjelaskan, pertama kayu dan kulit pohon tinggi,
jambal dan teger di cacah-cacah menjadi ukuran yang kecil, menyerupai tatal
kayu. Tatal kayu ini kemudian direbus dengan air hingga sepuluh atau duabelas
jam lamanya. Kemudian air hasil rebusan di saring. Air inilah yang digunakan
untuk mewarnai kain batik.
Kain batik yang akan
diwarnai kemudian di rendam didalam cairan pewarna alami tersebut selama satu
malam. Paginya kain ditiriskan, dan airnya ditampung kembali ke dalam kolah
tempat cairan pewarna alami tersebut. Setelah empat jam ditiriskan, kain
kemudian di jemur ditempat teduh, tidak bersentuhan langsung dengan sinar
matahari. Penjemuran ini berlangsung hinga sore hari dan kain siap direndam
semalaman lagi. Proses perendaman ini berlangsung hingga 30 kali atau 30 malam
secara berulang-ulang, Rendam, tiriskan jemur begitu seterusnya hingga 30 hari
lamanya.
Warna Lebih Ekslusif
Berbeda
dengan batik yang menggunakan pewarna kimia, batik yang diproduksi dengan
pewarna alami akan sulit dicari
kembaranya. Keunikannya yang sulit untuk menciptakan warna yang sama meski
dalam waktu pewarnaan yang bersamaan, memberi kesan eklusif tersendiri bagi
batik sogan. Kain yang satu dengan kain yang lainnya meski dalam satu waktu
pengerjaan yang bersamaan hasilnya pasti ada bedanya. Namun justru karena itu,
hasil karya ini lebih disukai bagi pemakai batik yang berselera tinggi.
Kombinasi warna batik sogan
tidak terlalu jauh dari warna coklat. Kombinasi warnanya biasanya coklat muda,
coklat tua, coklat kekuningan, coklat kehitaman dan coklat kemerahan. ’’Kayu
secang menimbulkan warna kemerahan. Kayu tingi kehijauan. Kayu jambal hitam
kecoklatan, dan sebagainya. kalau dicampur akan memunculkan warna lain” jelas
Harno.
Ramah Lingkungan
Yang pasti, karena berasal
dari bahan-bahan alami, limbah yang dihasilkan sangat ramah lingkungan. Pewarna
alami sangat akrab dengan lingkungan, jadi meski limbah sisa pewarna alami ini
di buang ke selokan, di tanah, atau bahkan di sawah secara langsung, tidak akan
menimbulkan polusi.
“Karena berasal dari alam,
dengan sendirinya zat-zat yang terkandung dalam pewarna alami dapat mudah
terurai. Berbeda dengan pewarna tekstil sintetis yang sulit terurai di alam,”
jelas Harno.
Cirikhas Batik Sogan
Bila dilihat sekilas, batik
yang menggunakan pewarna kimia dengan batik sogan memang hampir sama. Namun
bila diamati lebih teliti, ada perbedaan di kedua jenis batik ini. Pada batik
sogan, pola pada warna terang atau warna coklat terang tidak akan bisa terlihat
bersih polos, melainkan akan terlihat seperti ada serat-serat warna coklat.
Inilah cirikhas yang tak bisa ditemui pada batik yang menggunakan warna kimia.
Perajin Batik Soga Kian
Jarang
Karena faktor kesulitan dan
waktu proses pengerjaan yang lama, kini perajin batik sogan kian jarang
ditemui. Harno merupakan salah satu dari delapan puluh lebih perajin batik di
desa pilang yang masih setia membuat batik sogan. Perajin lainnya lebih memilih
menggunakan pewarna kimia. Selain mudah dalam pengerjaannya, produksi batik
dengan menggunakan pewarna kimia ongkos produksinya lebih irit. Meskipun
rekan-rekan seprofesinya telah jarang yang membuat batik sogan yang memakai
pewarna alami, Harno akan tetap setia menekuni pembuatan batik sogan.
Tips Merawat
Batik Sogan
Harno menjelaskan, kain
batik dengan pewarnaan alami membutuhkan penanganan khusus dibanding kain batik
biasa. Untuk mencuci kain batik sebaiknya dengan menggunakan lerak. Jangan
pernah sekali-kali mencucinya dengan mesin cuci. Sewaktu menjemur sebaiknya
jangan di bawah sinar matahari secara langsung, lebih baik menjemurnya dalam
keadaan terbalik. Bila ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik
tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain
dengan kain pelapis lainnya lebih baik yang berwarna muda/polos, baru
semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.
Sewaktu menyeterika,
sebaiknya dilapisi dengan kain. Jangan menyeterika langsung di atas kain batik,
karena bisa mempengaruhi motif dan warnanya. Sebaiknya juga tidak menyemprotkan
parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik
berpewarna alami. ***(Humas
Sragen - N.hart)