Demak
– Menjadi juara pertama membatik pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional
Sekolah Dasar 2012 sedikit pun tidak pernah terbayang di benak Laila Agustina.
Sebab di benak siswi kelas V SD Negeri Cangkring B 2 Kecamatan Karanganyar
tersebut, menekuni seni membatik karena ingin melestarikan seni warisan leluhur
asli Indonesia.
Menurut
Laila, ketertarikannya pada seni batik tidak lepas dari peran Kepala SD Negeri
Cangkring B 2, Riyanto SPd. Awalnya Pak Rin, panggilan akrab Riyanto, mengajari
bungsu dari tiga bersaudara itu membuat sket. Setelah lancar menggambar pola
dasar, baru kemudian juara lomba kitoba (pidato keagamaan) tingkat kecamatan
tersebut dilatih menuangkan lilin ke kain menggunakan canting.
"Membatik itu mengasyikan. Awalnya memang sulit. Tapi begitu bisa
mencanting, jadi ketagihan. Apalagi saat terpilih sebagai juara pada Festival
dan Lomba Seni Siswa Nasional Sekolah Dasar 2012 yang diadakan Dinas Dikpora
Kabupaten Demak April lalu. Saya semakin semangat melestarikan seni budaya khas
Indonesia ini," ujar Laila, didampingi guru kelasnya, Pudji Iriyanti SPd, belum
lama ini.
Lebih
lanjut penyuka tempe dan tahu tersebut mengungkapkan, melihat keterampilan
peserta lainnya pada lomba membatik sempat membuatnya grogi. Tapi karena ciri
khas Kabupaten Demak, seperti Masjid Agung Demak, belimbing dan jambu air merah
delima turut disertakannya pada gambar sket, maka tim penilai pun memilihnya
sebagai peserta lomba terbaik.
"Yang jelas saya bangga, karena lewat seni membatik bisa turut serta
mengharumkan nama sekolah. Alhamdulillaah ada hadiah uangnya, sehingga bisa
saya berikan ke ibu untuk membantu berjualan pecel," ujarnya.
Sementara
Kepala SD Negeri Cangkring B 2, Riyanto menyampaikan, apresiasinya kepada
Dinas Dikpora Kabupaten Demak yang mengangkat batik sebagai salah satu materi
kreativitas anak yang dilombakan. Sebab dengan memperkenalkan seni batik kepada
anak sejak dini, sangat bermanfaat untuk kelestarian Indonesia world heritage tersebut.
Namun demikian, menurutnya, agar bisa lebih menggali potensi seni batik khas
Kota Wali, akan lebih baik jika memasukan seni membatik pada kurikulum muatan
lokal (mulok).
"Saya pernah mengusulkan keterampilan seni membatik ini ke dalam kurikulum
mulok kepada wakil bupati. Tapi karena kewenangan menentukan materi mulok ada
di Dinas Dikpora, maka sampai sekarang menunggu kebijakan dari dinas. Tapi
kalau sampai lama belum ada respon, kami berencana memasukannya ke pelajaran
keterampilan kelas IV," pungkasnya. *(Humas Demak-NDR)