PURBALINGGA – Petani cabe di wilayah Purbalingga,
Pemalang dan Tegal, digelontor pinjaman modal usaha budidaya sebesar Rp 11,6
milyar. Dari modal tersebut, sebanyak Rp 6,6 milyar sudah direalisasikan.
Sisanya, sebesar Rp 5 milyar akan segera dikucurkan lagi dalam waktu dekat. Modal
ini bersumber dari dana Corporate
Social Responsibility sejumlah
Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Istri Menteri Negara BUMN,
Ny Nafsiah Dahlan Iskan, Kamis (3/5) mengunjungi petani cabe
di Desa Kutabawa,
Kecamatan Karangreja, Purbalingga.
Kepala Bagian Perekonomian Setda Purbalingga, Mukodam,
S.Pt mengungkapkan, pinjaman modal usaha diberikan melalui Koperasi Serba Usaha
(KSU) ‘Sejahtera Abadi’. Koperasi
ini beranggotakan 248 petani cabe yang berada di sekitar kaki Gunung Slamet dan
secara administratif wilayah meliputi tiga kabupaten yakni Tegal, Pemalang dan
Purbalingga. Petani cabe di Purbalingga sebagian besar berada di Desa Kutabawa,
Kecamatan Karangreja. “Lahan garapan petani anggota koperasi di tiga wilayah
itu seluas 360 hektar,” kata Mukodam, Jum’at (4/5).
Mukodam menjelaskan, pinjaman modal usaha yang telah
dikucurkan masing-masing berasal dari PT Jamsostek Rp 5 milyar, PT Garuda
Indonesia Rp 1 milyar dan
PT. Adikarya Rp 600 juta. “Dalam waktu dekat akan dikucurkan lagi sebesar Rp 5
milyar dari PT Jamsostek. Sedang menyangkut proses perencanaan, analisa kelayakan dan pendampingan
teknis dilakukan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM),” katanya.
Ketua KSU Sejahtera Abadi, Supono mengatakan, pinjaman
modal dari CSR BUMN disalurkan melalui koperasi. Pemanfaatannya sekitar 50
persen untuk membiayai sarana produksi pertanian seperti bibit, pupuk,
obat-obatan, dan sebanyak 50 persen lagi dimanfaatkan untuk biaya pengolahan
tanah dan tenaga kerja. Pinjaman modal selama 2 tahun dengan sistem
pengembaliannya berdasarkan periode panen. Tahun I panen I 10 persen, panen II
20 persen dan panen III 20 persen. ”Tahun ke-II juga dengan persentase yang
sama pengembaliannya,” kata Supono.
Dijelaskan,
cabe yang dihasilkan para petani dijual kepada PT Hens ABC melalui sistem
kontrak dengan harga Rp. 7.000,- per kg. Sedangkan harga kontrak kepada
koperasi Rp. 10.250,- per kg. Selisih harga diperhitungkan untuk biaya
transportasi, sortasi atau pemilahan grading sebagai bagian quality control,
pengepakan dan penyimpanan sementara. ”Jika harga di pasaran lebih dari Rp.
14.000,- per kg, maka akan diberikan insentif kepada koperasi dan para petani
dengan perhitungan tertentu,” kata Supono yang juga Kepala Desa Kutabawa,
Kecamatan Karangreja.
Diungkapkan
Supono, panen musim ini dikategorikan hasilnya sedang. Setiap batang pohon cabe
mampu menghasilkan rata-rata
700 gram. Jumlah tanaman dalam 1 ha sebanyak 20.000 batang. Hasil yang maksimal
satu batang pohon dapat mencapai satu kilogram. ”Hasil panenan petani cabe
masih belum mampu memenuhi permintaan PT Hens ABC yang membutuhkan pasokan
sebanyak 90 ton per hari. Oleh karenanya kami akan memperluas areal penanaman
akan diperluas ke wilayah Kabupaten Banjarnegara,” kata Supono.
Bupati
Purbalinga Heru Sudjatmoko mengatakan, pihaknya menyampaikan apresiasi yang
sangat positif kepada BUMN yang telah peduli untuk membantu permodalan peani
cabe melalui dana CSR.. ”Kami terus mensuport BUMN melaksanakan program CSR nya
untuk memberikan pinjaman modal usaha kepada para petani, khususnya di
Purbalingga. Kami berharap kedepan akan semakin banyak lagi BUMN lainnya yang
menempatkan program CSR untuk masyarakat Purbalingga,” harap Heru Sudjatmoko.
Bupati
Heru juga berharap kepada para petani untuk lebih gigih bekerja menggarap
lahan, meningkatkan produktivitas dan
dapat menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh sejumlah BUMN. ”Manfaatkan
pinjaman modal dengan benar untuk membiayai dan mengembangkan usahanya,
sehingga dapat meningkat pendapatannya serta mengembalikan pinjaman modal
tersebut secara tertib, bertangungjawab dan tepat waktu agar semakin lebih
dipercaya,” pinta Bupati Heru.
**www.jatengprov.go.id/newsroom_Purbalingga