BAWEN – Pemerintah Kabupaten Semarang
mengalokasikan dana insentif daerah (DID) senilai Rp 14,554 miliar dari
Pemerintah Pusat untuk merehabilitasi 272 ruang kelas di 74 sekolah dasar yang
tersebar di 19 Kecamatan. Pelaksanaan pembangunan paling cepat dilakukan pertengahan
bulan Juni mendatang.
“Saat ini disain teknis terinci (detail engineering
design/DED) telah selesai dibuat dan akan memasuki tahap lelang. Diperkirakan
pengerjaan sudah bisa dimulai pada bulan Juni nanti,” kata Kepala Bidang
Sekolah Dasar Dra Astuty MPd disela-sela mendampingi Wakil Bupati (Wabup) Ir H
Warnadi meninjau pelaksanaan ujian nasional (UN) di SDN Polosiri I Bawen, Rabu
(9/5) pagi. Pantauan kegiatan UN tingkat SD sederajad juga
dilakukan oleh Wabup di SDN Kandangan 02 dan 04 serta MI Pancur Kandangan
Bawen.
Saat meninjau salah satu ruang kelas SDN Polosiri
I Bawen yang atap plafonnya hampir runtuh, Wabup meminta pengelola sekolah
untuk menyangganya dengan bambu. Empat ruang kelas di sekolah ini rencananya
akan diperbaiki dengan dana DID. “Jangan sampai atapnya runtuh sebelum diperbaiki.
Rehab harus dikerjakan sesuai ketentuan dan Dinas Pendidikan harus mengawasi
dengan baik,” pinta Wabup.
Ditambahkan oleh Astuty, berdasarkan pendataan
saat ini tercatat setidaknya ada 788 lokal kelas SD yang mengalami rusak berat
diseluruh wilayah Kabupaten Semarang. Perbaikan bangunan kelas itu direncanakan
memanfaatkan berbagai sumber dana seperti DAK dan block grant dari pemerintah
pusat dan DID.
Khusus untuk pemanfaatan dana DID pada tahun 2012
ini, akan digunakan untuk merehab 125 lokal kelas yang rusak sedang dan 147
kelas rusak berat. “Sesuai peraturan, besarnya biaya rehab sedang sebesar Rp 30
juta dan rehab berat ditentukan Rp 73,5 juta. Dinas Pendidikan akan mengawasi
pekerjaan para kontraktor agar hasilnya baik,” jelasnya.
Rehab bangunan kelas SD itu, lanjutnya,
dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pelayanan standar minimal sarana dan
prasarana pendidikan. Sekaligus meningkatkan mutu pendidikan dasar di Kabupaten
Semarang.
Kepala SDN Polosiri I Sri Rahayuningsih
menjelaskan empat lokal kelas di sekolah yang dipimpinnya memang sudah rusak
cukup parah. Selain atap plafonnya yang nyaris ambrol dan terlalu rendah,
emperan depan kelas yang berubin juga terlihat retak-retak. “Bangunan ini sudah
berusia lebih dari sepuluh tahun dan kondisinya memang cukup memprihatinkan.
Rehab ruang kelas ini memang sangat diperlukan agar anak-anak nyaman saat
belajar,” terangnya.
*www.jatengprov.go.id/newsroom_KabSemarang