Misi 3 : Memantapkan
kondisi social budaya yang berbasiskan kearifan local
Atraksi penanganan
korban bencana alam yang dipadukan dengan tarian khas Purworejo “Dolalak”
membuat pengunjung terperanjat. Mereka bingung melihat peserta upacara
berlarian ke tengah lapangan, sambil berteriak minta tolong. Dari panggung pengrawit,
terdengar suara kentongan bertalu-lalu titir sebagai tanda
bahaya, sementara yang lain berteriak memberikan peringatan adanya bencana alam
seperti gempa, banjir, tanah longsor saling bersahutan.
Tak lama kemudian, datanglah warga masyarakat lainnya
yang selamat untuk memberikan pertolongan. Yang ditandu, dipapah, bahkan
diperagakan membawa korban dengan mengenakan sepeda. Mereka dibawa melewati
jembatan bambu, yang telah dipersiapkan dari Purworejo. Setelah itu mereka
memperagakan penanaman tanaman sebagai upaya penghijauan. Merka berharap “Alam
lestari-hidup serasi”.
Kejadian tersebut adalah
bagian dari penampilan kesenian dan atraksi kontingen Purworejo,yang ternyata
memukau pengunjung di lapangan Pancasila kompleks Taman Mini Indonesia Indah
(TMII), Jakarta. Mereka adalah anggota Kwarcab Purworejo, dalam perkemahan
sehari gebyar sang Merah Putih (Persari Gesang Merapih) ke 5 tahun 2010, Jumat
(17/6), di lapangan Pancasila, kompleks TMII. Penampilan Kesenian dan atraksi
anggota pramuka dilaksanakan sebelum upacara penurunan bendera dimulai. Atraksi
diikuti beberapa sekolah di wilayah Jakarta Timur dan Jabar.
Penampilan pertama oleh aksi drumband anak-anak SD I
Pengayom Bekasi. Kemudian dilanjutkan senam semaporeoleh SMPN I
Bekasi. Disusul pembacaan puisi oleh anggota penegak dari SMK Bina Darma
Jakarta Timur. Sebagai puncaknya, penampilan kesenian dan atraksi Kwarcab
Purworejo.
Penampilan kesenian Purworejo diawali dengan tarian
dolalak. Tarian ini mendapat sambutan hangat baik dari peserta upacara maupun
wisatawan yang saat itu menyaksikan di pinggir lapangan. Saat penonton asik
menyaksikan penari dolalak berlengak-lenggok, tanpa jeda waktu sedikit pun,
pengrawit membunyikan kentongan bertalu-talu (titir) dan berteriak
sebagai tanda adanya benca alam. Sementara di tengah lapangan, para peserta
upacara dari Purworejo berhamburan menjerit minta tolong. Mereka bergelimpangan
terjatuh dan tergeletak di tengah lapangan, layaknya orang tertimpa bencana.
Supervisor kegiatan TMII, Nunuk Suyono, usai acara
kepada Kiprah menyatakan puas atas penampilam kontingen Purworejo. Mereka
dinilai mampu menampilkan kesenian yang selama ini menjadi ikon Kabupaten
Purworejo. Disamping itu, atraksi-atraksi mereka membuat kaget dan kagum para
pengelola TMII. “Mereka membuat kejutan dengan menampilkan ketrampilan, yang
cukup atraktif dan dinamis,” katanya.
**(contributor Humas Purworejo)