csr.jpg

WONOSOBO - Sebagai bentuk perwujudan kepedulian pihak swasta, melalui program Corporate Society Responsibility (CSR) perusahaan, PT.Hutama Karya Jakarta bersama Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Forum Komunikasi Jaringan Kelompok Tani dan Nelayan Sejahtera Mandiri Kecamatan Wadaslintang, melakukan panen ikan perdana di Waduk Wadaslintang, Jum’at (4/5).

 

          Menurut Kepala Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Wonosobo, Karyoto, bentuk kerjasama ini merupakan perwujudan kepedulian dunia usaha dalam upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan, khususnya nelayan karamba di Wadaslintang, serta usaha yang ada di sekitar Waduk Wadaslintang, disamping sebagai satu bentuk upaya konservasi lingkungan, khususnya lingkungan air dan biota di dalamnya yang ada di Waduk Wadaslintang, melalui penerapan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan di bidang perikanan. Untuk itu dalam program CSR kali ini dilibatkan pihak akademisi, yakni dari Universitas Diponegoro Semarang serta dari satgas perbenihan Kementerian Perikanan Dan Kelautan sebagai pendamping teknis.

 

Untuk jumlah kolam atau petak yang dihasilkan dari program ini sebanyak 20 kolam, dimana tiap petaknya berukuran 7 kali 7 meter dengan kedalaman 7 meter, dimana tiap kolam berisi sekitar 100 kilogram benih ikan.  Ikan yang diternakkkan dalam kolam tersebut adalah jenis ikan nila larasati. Dipilihnya nila larasati karena beberapa keunggulan yang dimilikinya yakni pertumbuhannya seperti nila merah sedangkan reaksi pakannya seperti nila hitam, pemeliharaan lebih cepat, dagingnya lebih banyak serta kematian lebih sedikit. Nila larasati sendiri merupakan singkatan dari nila merah strain janti, hasil perekayasaan yang dilakukan pbiat janti klaten, dimana ikan ini merupakan persilangan antara nila hitam dengan nila merah.

 

Untuk panen perdana kali ini dari 20 kolam berhasil dipanen 4 kolam, dengan total ikan yang dihasilkan sekitar 3,5 ton dan ketebalan ikan mencapai 3 sampai 4,5 centimeter. Jika normal seharusnya bisa panen sekitar 4 ton, tapi karena adanya badai yang terjadi beberapa waktu lalu, panen kali ini hanya berhasil memanen sekitar 3,5 ton. Sementara waktu yang diperlukan dari tebar benih sampai sampai panen adalah empat bulan.

 

Fajar basuki, dari Satgas Perbenihan Kementerian Perikanan Dan Kelautan, menyampaikan bahwa keberadaan mereka bersama pihak Undip Semarang, dalam program CSR kali ini, diantaranya adalah dalam bidang pembenihan, penelitian pakan ikan dan pembesaran ikan. Saat ini pihaknya tengah berupaya agar benih ikan nila larasati bisa dihasilkan di Wonosobo, tidak perlu mengambil di PBIAT Janti Klaten. Saat ini sudah dicoba dibuat pembibitan seperti di Wadaslintang sendiri dan di Desa Wulungsari Selomerto.

 

          Sementara untuk pakan ikan sedang diupayakan untuk menggunakan pakan ikan yang berasal dari bahan baku lokal, tidak dari pabrikan. Hal tersebut bertujuan, disamping lebih alami juga untuk menekan biaya pakan ikan. Paling tidak jika upaya ini berhasil bisa ditekan sampai 30 persen dari penggunaan pakan pabrikan, petani bisa meningkatkan penghasilannya. Pakan ikan lokal berasal dari kotoran ternak masih dalam perut yang difermentasi sehingga menghasilkan protein untuk ikan sampai 12 persen, kemudian dari hasil fermentasi ampas tahu yang bisa menghasilkan sampai 23 prosen protein ikan serta dari enceng gondok yang dicacah dan difermentasi. Oleh karena itu, pihaknya dibantu dua mahasiswa dari lppm undip beserta dosen pendamping, doktor sukadi, sedang berupaya serius agar upaya pakan ikan lokal ini bisa berhasil.

 

          Untuk pembesaran ikan sedang dicoba dengan membuat tiga jenis kolam, pertama kolam yang diisi dengan 100 kilogram benih ikan, kedua kolam yang diisi dengan 150 kilogram benih ikan dan ketiga kolam yang diisi dengan 200 kilogram benih ikan. Nantinya akan dilihat mana kolam yang menghasilkan ikan dengan kualitas terbaik.

 

 Doktor Sukadi menerangkan bahwa dipilihnya Waduk Wadaslintang sebagai sasaran dari program CSR PT.Hutama Karya adalah karena kelebihan yang dimiliki waduk ini dibandingkan waduk lain di Indonesia, seperti kedalaman waduk yang lebih dalam dibanding waduk lain yakni sekitar 80 meter, kualitas suhu air yang tidak memiliki fluktuasi suhu, serta kadar oksigen minimal 3 sampai 6,5 ppm yang merupakan kondisi optimal untuk hidup ikan, sementara di tempat lain hanya berkisar antara 2 atau 1 ppm.

   

Sementara itu dalam panen ikan perdana kali ini, juga dihadiri oleh beberapa anggota komisi B DPRD Wonosobo. Ketua komisi B Ika Sulistyana menyampaikan perlunya sebuah perencanaan tata ruang dan wilayah khusus Waduk Wadaslintang, sehingga bisa dikembangkan menjadi kawasan pariwisata terpadu. Beberapa kelebihan yang dimiliki bisa menjadi daya tarik investor serta wisatawan, dan yang terpenting bisa meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar waduk. Pihaknya berharap SKPD terkait, seperti Dinas Pariwisata, Bappeda dan Dinas Peternakan dan Perikanan segera membuat site plan yang tepat untuk kawasan Waduk Wadaslintang.


Bersama Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, dan perwakilan perusahaan serta Forum Komunikasi Jaringan Kelompok Tani dan Nelayan Sejahtera Mandiri, anggota DPRD melakukan panen ikan bersama.  **Newsroom_humas Wonosobo**