Banjarnegara,JTNR
Posisi terisolasi dari jaringan regional Jateng - DIY menyebabkan Kabupaten Banjarnegara belum optimal dalam mengatur/mengendalikan penataan ruang wilayah. Meskipun ditunjang oleh sektor-sektor andalan seperti pertanian, pariwisata, dan industri kecil, namun pemanfaatannya belum dikembangkan secara optimal. Kedepan, keterlibatan seluruh stake holder dari tingkat kabupaten sampai kecamatan sangat diperlukan untuk menentukan strategi yang tepat dalam pengembangan wilayah yang akan direncanakan tahun 2010.

Hal itu disampaikan Bupati Djasri kepada seluruh pimpinan Dinas dan SKPD beserta seluruh camat di lingkungan Kabupaten Banjarnegara di Sasana Bhati Praja, kamis (16/9). Acara yang bertujuan untuk mensosialisasikan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banjarnegara itu menghadirkan pakar yang memunculkan ide Pemanfaatan Citra Satelit dalam Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banjarnegara yang disesuaikan dengan UU Penataan Ruang No.26 Tahun 2007.

Mohammad Helmi, pakar dari MAPIN (Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia) yang memunculkan ide tersebut memaparkan bahwa dengan Citra Satelit kemampuan memproses data bisa dilakukan dengan volume lebih besar daripada cara manual. Selain itu akurasi dan kecepatan perolehan data (spasial dan non spasial) untuk inventarisasi juga sangat detil. “Dengan pemanfaatan Citra Satelit luas batas administrasi jadi lebih mutakhir dan detil. Sehingga kemungkinan meleset sangat kecil,” jelasnya.

Memang untuk implementasinya diperlukan pelatihan minimum 5 hari dengan komposisi materi 20% teori dan 80% praktik langsung. “Namun upaya tersebut sangat efektif mengingat pemanfaatannya bisa dibagi antar Dinas/SKPD terkait untuk menentukan strategi yang paling jitu terkait pencapaian tujuan ruang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Untuk mendukung pencapaian tersebut, penasehat LEKAD (Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kerjasama Antar Daerah), Sugiono Soetomo menyarankan agar Banjarnegara menempatkan kawasan andalan di dalam sistem jejaring sinergis, tidak terpisah-pisah dan saling terkait antara kota, kota desa, dan kota kecamatan.

“Karena sektor pertanian di Banjarnegara diunggulkan, maka pengembangan wilayah sawah, hortikultura, perkebunan dan kehutanan perlu diprioritaskan, disamping penetapan wilayah non budidaya. Selain itu perlindungan bencana longsor juga diperlukan mengingat Banjarnegara sangat rawan dengan bencana tersebut,” jelasnya. (Yoi_ed.Sj)