DEMAK Banyak yang meyakini bahwa untuk memperoleh ketenangan hati, seseorang dituntut bisa lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Agar prosesnya berjalan relatif mudah, banyak orang yang melakukan pendekatan diri melalui kegiatan ziarah ke makam para wali (aulia).

 

Keyakinan demikian ternyata menjadikan Kampung Merbotan Kelurahan Kadilangu Kecamatan Demak Kota selalu ramai dikunjungi para peziarah. Maklum, kampung yang terletak sekitar satu kilometer dari jantung kota Demak ke arah timur ini merupakan tempat bersemayamnya Sunan Kalijaga beserta istri, putu wayah (anak cucu), sejumlah panembahan, juga para abdi dalem (orang kepercayaan). Sejauh ini pengelolaan makam dilakukan oleh Paguyuban Sunan Kalijaga. 

 

Menurut Humas Kasepuhan Ahli Waris Sunan Kalijaga, Wiedjayanto, Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari Walisongo yang semasa hidupnya berhasil menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya. Dia meninggal dunia di usia 131 tahun, tepatnya pada 1586 Masehi. Sunan Kalijaga kemudian dimakamkan di bawah bangunan cungkup sederhana yang terbuat dari kayu jati. Di tempat itu juga dimakamkan istrinya, yakni RA Siti Retno Dumilah yang tak lain adik kandung Sunan Gunung Jati. Selain untuk pemakaman, bangunan cungkup juga menjadi tempat menyimpan dua pusaka milik Sunan Kalijaga yakni Keris Kyai Carubuk dan Kutang Onto Kusumo.


”Setiap Bulan Besar, dua pusaka itu kami jamasi. Rangkaian prosesi penjamasan yang dikenal dengan istilah Grebeg Besar itu sejauh ini menjadi daya tarik tersendiri. Terlebih unsur budaya yang Islami banyak mewarnai rangkaian kegiatan tersebut, seperti ancakan tumpeng sembilan, pementasan tari Bedoyo Tunggal Jiwo, hingga pawai prajurit patangpuluhan,” kata Wiedjayanto.

   

Dia menjelaskan, pada tahun 1962 Presiden Soekarno membuat bangunan tembok berukir yang berfungsi melindungi cungkup utama tempat kanjeng sunan disemayamkan. Karena itu pula, sekarang ini cungkup makam kanjeng sunan berada di dalam cungkup buatan Soekarno. Kemudian di dalam bangunan cungkup yang dibangun Presiden Soekarno itu juga terdapat makam orang-orang kepercayaan Sunan Kalijaga. Diantaranya makam Dewi Rosowulan (adik kandung Sunan Kalijaga), serta makam Kyai dan Nyai Derik. Kemudian di komplek pesarean yang berada di luar bangunan cungkup masih terdapat pula sekitar 300 makam para putro wayah, termasuk makam Haryo Penangsang.

 

Wiedjayanto sangat faham bahwa mereka yang berziarah ke makam Sunan Kalijaga memang memiliki beragam maksud dan tujuan. Namun rata-rata mereka mengaku, dengan berziarah di makam wali serasa dekat dengan Sang Pencipta. Mereka merasa memperoleh ketenangan hati. Karena itulah mereka lebih yakin doanya kepada Allah SWT akan terkabul.

 

”Jadi begini, orang ziarah ke sini itu tujuan utamanya adalah kirim doa untuk Sunan Kalijaga. Ini sekaligus bentuk kecintaan mereka kepada para wali yang telah berjasa menyebarkan Islam dan membimbing umat. Kemudian mereka meminta kepada Allah agar hajatnya dikabulkan. Berwasilah melalui Kanjeng Sunan memang beralasan karena beliau adalah kekasih Allah,” ungkap Wiedjayanto.

 

Dia menambahkan, lantaran kunjungan peziarah dari tahun ke tahun cenderung meningkat maka pihak Kasepuhan berupaya memberikan kenyamanan yang maksimal. Karena itulah Kasepuhan melakukan penataan akses menuju makam dengan membangun selasar, serta menempatkan para pedagang oleh-oleh yang berada di kanan kiri jalur tersebut secara lebih rapi. Pembangunan menghabiskan dana sekitar Rp 1,8 milyar. Dana tersebut murni bantuan dari salah seorang ahli waris Sunan Kalijaga.  

  

”Sekarang jauh lebih nyaman dibanding dua tahun lalu. Peziarah tak lagi perlu khawatir kehujanan ataupun kepanasan karena sudah kita bangun selasar yang memayungi sepanjang jalan menuju komplek makam. Untuk mendukung keamanan, kita juga pasang sejumlah CCTV di sejumlah titik,” ujarnya.

 

Disampaikan pula, demi mewujudkan lingkungan komplek makam yang nyaman dan asri maka pihak Kasepuhan memprakarsai pembentukan Paguyuban Pengusaha Kadilangu Demak (PPKD). Paguyuban yang beranggotakan para pelaku usaha di kawasan Kadilangu tersebut selanjutnya bertanggung jawab terhadap kebersihan, ketertiban dan keamanan.”Jadi anggota paguyuban itu ada yang pedagang souvenir, makanan, pakaian, dan buah-buahan, termasuk pula mereka yang membuka tempat mandi cuci kakus (MCK) juga penitipan kendaraan,” pungkasnya.

 

Di komplek wisata religi Kadilangu bukan hanya terdapat makam Sunan Kalijaga dan para cucu wayahnya. Namun, sejumlah peninggalan wali yang memperoleh pengakuan UNESCO sebagai penemu wayang kulit itu masih lestari hingga sekarang. Wiedjayanto menambahkan, peninggalan dimaksud antara lain masjid, bedug, sumur panguripan, gentong, gedong pangeranan, dalem notobratan, juga selo palenggahan.

 

”Masjid Sunan Kalijaga dibuat sebelum Masjid Agung Demak dibangun. Kemudian sumur panguripan konon airnya digunakan Kanjeng Sunan untuk mengobati berbagai penyakit. Hingga kini banyak pengunjung mandi menggunakan air sumur itu untuk penyembuhan sakit-sakit berat. Hanya kita berpesan bahwa segala kuasa cuma milik Allah. Kitapun memohon hanya kepada-Nya,” kata putra ke tiga Sesepuh Kadilangu R Soedioko ini.

 

Adapun gedong pangeranan, lanjut dia, kini dijadikan sebagai Sekretariat Kasepuhan sekaligus kantor Sesepuh. Sedangkan dalem notobratan, kini dijadikan sebagai tempat serba guna. Bangunan joglo yang memiliki halaman cukup luas ini digunakan untuk acara Grebeg Besar, paripurna keluarga, ruwatan, saresehan, juga pagelaran budaya. ”Semua peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga merupakan aset berharga yang tak ternilai harganya. Apalagi hingga kini banyak pula mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melakukan penelitian untuk kepentingan studi,” ujarnya.   **www.jatengprov.go.id/newsroom_Humas Demak-NDR