Kultur budaya Jawa pada masa penyebaran
Islam oleh Walisanga menjadi daya tarik tersendiri bagi Duta Besar Amerika
Serikat, Scott Marciel. Karenanya, Scot mengunjungi Masjid Agung Demak, baru-baru
ini. Rombongan duta besar diterima Wakil Bupati Demak Drs H Moh Dachirin Said
SH MSi, takmir Masjid Agung Demak H. Abdul Fatah, Waka Polres Kompol Suwasi,
Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Demak Drs HM Ridwan,
serta sejumlah pejabat dari Kantor Kemenag Demak.
Kunjungan Dubes AS ke MAD bertujuan
mengetahui sejarah masjid peninggalan Sultan Fatah dan Walisanga itu, sekaligus
untuk memahami budaya dan kultur masyarakat Jawa melalui benda-benda yang kini
masih tertinggal.
Scott melihat benda-benda peninggalan
wali yang tersimpan di dalam museum, juga berkesempatan masuk ke area makam
Sultan Fatah dan mengamati bagian dalam Masjid Agung Demak. Dubes AS yang
mengaku pernah tinggal di Turki itu nampak kagum saat melihat empat saka tatal
penyangga masjid peninggalan Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Bonang dan
Sunan Gunungjati.
"Masjid Agung Demak memang beda dengan
masjid-masjid tua di dunia yang pernah saya kunjungi. Biasanya masjid itu
memiliki kubah yang terbuat dari batu, sedangkan Masjid Agung Demak atap dan
tiang penyangga utamanya terbuat dari kayu. Yang menakjubkan, meski umurnya
sudah mencapai ratusan tahun kayunya tak juga lapuk. Sungguh luar biasa,"
ungkapnya takjub.
Scott
juga mengaku terkesan dengan bancet atau penunjuk waktu dari batu yang terdapat
di sisi utara halaman masjid. Menurutnya, keberadaan benda itu menunjukkan
bahwa budaya Jawa di masa wali tidak primitif. "Saat ini kita beruntung
karena sudah ada jam tangan. Bagaimana jika kita harus membawa alat ini ke
mana-mana untuk melihat waktu?" kelakarnya. (Humas Demak-NDR)