Misi 6 : Mewujudkan kondisi aman dan rasa aman
dalam kehidupan bermasyarakat
PURBALINGGA – Memperingati Hari Lingkungan Hidup
Sedunia, Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko mengajak masyarakat Purbalingga melindungi satwa-satwa
asli jawa, termasuk burung-burung liar yang kini semakin langka karena
perburuan yang membabi buta. Tak hanya satwa, berbagai flora termasuk
tanam-tamanan dan berbagai jenis buah-buahan lokal juga mendesak untuk
dilindungi dan dibudidayakan.
“Saya ingin mengajak kita semua untuk merenung
sejenak tentang kondisi alam kita yang semakin rusak. Beraneka burung, satwa asli jawa,
tanam-tanaman dan berbagai jenis buah-buahan yang pada masa kecil saya mudah
sekali didapat, saat ini menjadi semacam dongeng bagi anak-anak kita,” ujar
Bupati dalam sambutan yang dibacakan Sekda Purbalingga Drs. Subeno, MM dalam
Upacara 17-an Bulan Juni yang dirangkai Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia
2010 di Pendopo Dipokusumo,
Kamis(17/6).
Ternyata keresahan bupati juga menjadi keresahan
dunia saat ini. Terbukti, United Nations Environment Programme pada Hari
Lingkungan Hidup Sedunia 2010 yang diperingati di Kigali, Rwanda, mengambil
tema "Many Species, One Planet, One Future". Sejalan dengan itu, pada
peringatan yang sama, Indonesia juga mengusung tema "Keanekaragaman
Hayati, Masa Depan Bumi Kita". Bahkan pada tahun 2010 inipun telah
ditetapkan sebagai "Tahun Keanekaragaman Hayati Internasional".
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Pada kesempatan yang sama, Bupati juga
mengajak warga Purbalingga untuk tidak memburu burung-burung atau satwa lain
baik untuk diperjualbelikan maupun pemenuhan hobi.
Bupati juga mengajak warga Purbalingga untuk menjadikan ramah lingkungan
sebagai gaya hidup. “Mulailah membudayakan diri dengan menanam pohon
terutama untuk menandai saat-saat penting dalam hidup kita, seperti pernikahan,
kelahiran anak, atau bentuk syukuran setiap kali kita memperoleh nikmat dari
Allah,” tambahnya.
Gaya hidup ramah lingkungan juga termasuk membiasakan
diri dengan 3R, yaitu Reuse, Reduce, danRecycle. Reuse atau memakai
kembali berarti menggunakan kembali barang-barang yang masih layak kita pakai,
bukan membuangnya. Reduce atau mengurangi. Sebagai contoh, membeli gado-gado
tanpa plastik, tapi membawa wadah dari rumah. Karena plastik sangat sulit
diurai tanah.
Reduceini termasuk dengan mengurangi pemakaian energi
yang berlebihan. Sebagai contoh menggunakan kendaraan umum, sepeda atau jalan
kaki daripada sepeda motor pribadi jika hanya untuk ke tempat-tempat yang dekat.
Recycle atau daur ulang, missal dengan memisahkan sampah organik dan sampah
non organic sehingga memudahkan pemulung mengambil sampah yang bisa
didaur ulang.
“Mungkin kita
saat ini belum bisa menikmatinya, namun anak cucu kita nantinya akan sangat berterima kasih karena menerima warisan
kekayaan hayati dan lingkungan yang lestari,” tegasnya. **(kontributorHumasPurbalingga_cie)