P

Misi 4 : Pengembangan sumber daya manusia berbasis kompetensi secara berkelanjutan;

 

Bakorwil III - Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi daerah yang besar, baik potensi hayati, maupun potensi budaya yang sebagian besar berada di perdesaan. Apabila potensi ini dikelola dengan baik akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, pelaku pembangunan yang menggerakan potensi tersebut, masih kurang. Oleh sebab itu, gerakan Bali Ndeso mbangun Deso yang saya canangkan mengedepankan konsep pemberdayaan potensi dan masyarakat desa.

Hal itu ditegaskan Gubernur Jawa Tengah, H. bibit Waluyo dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Badan Koordinasi Pembangunan Lintas Kabupaten/Kota Wilayah III, Ir. Satriyo Hidayat, ketika mencanangkan kampus terpadu “one stop education” dan wisuda perdana Stimik Tunas Bangsa Banjarnegara. Pencanangan tersebut dihadiri Bupati beserta Anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Banjarnegara, Ketua Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah, Ketua dan civitas akademika STIMIK Tunas Bangsa Banjarnegara, para akademisi dan pelaku pendidikan.

Dikatakan, inti dari Bali Ndeso Mbangun Deso ini adalah pemberdayaan sumber daya dan potensi daerah, karena desa adalah miniatur negara, semua potensi berasal dari desa, dari kebutuhan pangan hingga bahan baku industri. Bagi yang pandai dapat menularkan ilmunya kepada masyarakat desa, yang kaya dapat memberikan dorongan modal, agar desa lebih maju. Jika desa sejahtera, maka negara juga ikut makmur. Bali Ndeso Mbangun Deso harus disengkuyung seluruh ele-men masyarakat guna mewujudkan Visi ”Terwujudnya masyarakat Jawa Tengah yang semakin sejahtera”.

Keberadaan Kampus Terpadu dari SD hingga Perguruan Tinggi ini sangat penting sebagai jalan untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas kepada masyarakat. Oleh sebab itu, saya juga ucapkan “Selamat” atas Pencanangan Kampus Terpadu ini dan “Selamat” pula kepada para wisudawan yang telah berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Mudah-mudahan semua ini dapat memberikan kontribusi yang lebih membanggakan bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Gerakan Bali Ndeso Mbangun Deso ini diimplementasikan melalui 6 (enam) misi pem-bangunan Jawa Tengah Tahun 2008-2013, yaitu :

1.    Mewujudkan pemerintah yang bersih dan sikap responsif aparatur;

2.    Pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian dalam arti luas dengan menerapkan sapta usaha tani, pemberdayaan UMKM dan industri padat karya;

3.    Memantapkan kondisi sosial budaya yang berkearifan lokal;

4.    Pengembangan sumber daya manusia berbasis kompetensi secara berkelanjutan;

5.    Peningkatan perwujudan pembangunan fisik dan infrastruktur;

6.    Mewujudkan kondisi aman dan rasa aman dalam kehidupan bermasyarakat;

Misi ke-2 menjadi prioritas yang pada Tahap I Pembangunan Jawa Tengah 2008-2013, telah membawa berbagai capaian yang positif, yang terus berlanjut hingga triwulan I tahun 2010, antara lain :

·         Angkatan kerja pada Februari 2009 sebesar 16,61 juta, naik menjadi 17,13 juta jiwa pada Februari 2010, sedangkan penyerapan tenaga kerja pada Februari 2009 sebesar 15,40 juta jiwa atau 92.73%, hingga Februari 2010 mencapai 15,95 juta jiwa atau 93,14%, jadi naik sebesar 3,47%;

·         Pengangguran pada Februari 2009 terhitung 7,28% atau 1,2 juta jiwa dan pada Februari 2010 menjadi 6,86% atau 1,17 juta jiwa turun sebear 0,42%;

·         Penduduk miskin tahun 2008 sebesar 6,19 juta jiwa (19,23%) berkurang menjadi 5,73 juta jiwa (17,72%) atau turun sebesar 7,49%;

 

 

·         Jumlah buta aksara dari tahun 2008 sebesar 170 ribu orang, tinggal 1.782 orang di tahun 2009.

·         Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 rata-rata 4,7%, masih di atas pertumbuhan ekonomi nasional yaitu 4,5%, bahkan pada Triwulan I tahun 2010 pertumbuhan ekonomi menjadi 6,5% yang sebagian besar ditunjang dari sektor pertanian (46%), dan lebih besar dibandingkan dengan  rata-rata pertumbuhan ekonomi secara nasional, yaitu 5,6%;

·         Inflasi tahun 2008 sebesar 9,55% turun menjadi 3,32% tahun 2009 dan hingga Mei 2010 inflasi sebesar 1,26%;

·         Produksi beras Jawa Tengah akhir tahun 2009 masih surplus sebesar 2,6 juta ton dan turut menyangga kebutuhan beras nasional sebesar 15%;

         Saat ini, pelaksanaan pembangunan di Jawa Tengah telah memasuki tahap II yaitu tahap percepatan dan prioritas sasaran. Untuk itu segenap potensi, upaya dan anggaran diprioritas-kan mencapai target yang telah ditetapkan untuk mewujudkan masyarakat Jawa Tengah yang semakin sejahtera. Pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana juga semakin ditingkatkan untuk mendukung pencapaian kesejahteraan, seperti pembangunan Jalan Tol Semarang Solo dan sarana trasnportasi lain, optimalisasi saluran irigasi, Waduk Jatibarang, Kolam Retensi dan sebagainya. Semuanya untuk meningkatkan kondisi perekonomian daerah.

         Untuk itu, saya minta seluruh pihak dapat nyengkuyung Bali Ndeso Mbangun Deso agar semakin berdayaguna dan berhasilguna optimal. Pelaku pembangunan di Jawa Tengah harus SDM yang berkompeten dan benar-benar memiliki daya saing tinggi.

         Saat ini kita menghadapi krisis kebangsaan yang menjadi tantangan bagi SDM pelaku pembangunan dalam mengembangkan Jawa Tengah, yaitu krisis jatidiri, krisis ideologi, krisis karakter dan krisis kepercayaan. Oleh sebab itu, akses dan mutu pendidikan hendaknya harus ditingkatkan guna membentuk SDM yang mum-puni. Keberadaan Kampus Terpadu atau One Stop Education Tunas Bangsa yang melayani pendidikan dari tingkat dasar (SD) hingga Pergu-ruan Tinggi menjadi salah satu solusi dalam membentuk kualitas SDM di Jawa Tengah.

         Saya minta penyelenggaraan pendidikan terpadu ini memperhatikan akses dan mutu pendidikan, sehingga masyarakat mempunyai peluang yang lebih luas untuk memperoleh pendidikan dengan biaya terjangkau dan kualitas yang lebih baik, bahkan hingga perguruan tinggi, sebab saat ini untuk kesempatan mengenyam pendidikan tinggi banyak terbentur pada permasalahan dana. Tunas Bangsa harus mampu menjembatani kepentingan masyarakat ini, dan jangan sampai mengangkat permasalahan biaya sebagai halangan bagi masyarakat dalam meng-akses pendidikan.

         Adanya Sistem Terpadu seperti ini, pela-yanan pendidikan harus lebih mudah, murah, cepat dan tetap berkualitas, sehingga akan semakin banyak SDM berkualitas yang dihasilkan. Demikian pula halnya dengan wisuda STIMIK Tunas Bangsa ini, hendaknya mampu menjadikan para lulusan sebagai sarjana yang berkompeten dan peka terhadap kebutuhan masyarakat. Tunas Bangsa yang baik adalah generasi yang mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang berkembang di masyarakat.

         Aplikasikan pengetahuan yang didapat se-lama di bangku kuliah dengan sebaik-baiknya. Tingkatkan pengalaman, agar mampu bersaing, tidak menggantungkan kesempatan kerja yang ada, tetapi justru mampu menciptakan lapangan kerja baru, dan berkarya terus demi masyarakat, bangsa dan negara.

       Kepada STIMIK Tunas Bangsa maupun Yayasan Ponpes Al Fatah Banjarnegara saya berharap dapat memantapkan perannya dalam nyengkuyung gerakan Bali Ndeso Mbangun Deso di Jawa Tengah. Ciptakan dan rintis program pendidikan yang sinergis dengan pengembangan usaha masyarakat, baik ekonomi produktif dan usaha pertanian maupun hal lainnya, sebagai-mana implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Tugas pengabdian, penelitian, dan penyelengga-raan pendidikan ini hendaknya dapat mendorong partisipasi ekonomi masyarakat, dan menjadi mitra bagi pemerintah dalam mewujudkan kese-jahteraan masyarakat.