Misi
3 : Memantapkan kondisi social budaya yang berbasiskan kearifan local
BP3AKB - Kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan kejahatan
terhadap kemanusiaan, yang saat ini semakin marak terjadi. Perkosaan,
penganiayaan, diperjualbelikan/perdagangan orang, pelecehan seksual,
pencabulan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sampai pembunuhan seolah-olah
menjadi berita sehari-hari yang harus kita dengar, baca dan saksikan diberbagai
media, baik media cetak maupun media elektronik. Kasus-kasus kekerasan terhadap
perempuan dan anak yang muncul diberbagai media maupun kepolisian sampai
pengadilan belum dapat menggambarkan fakta sesungguhnya karena data yang ada
merupakan kasus yang diketahui dan terlaporkan, sedangkan kasus kekerasan yang
dialami perempuan dan anak yang terjadi dimasyarakat yang tidak dilaporkan
lebih banyak.
Jumlah kasus
korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Jawa Tengah dari tahun
ke tahun terus mengalami peningkatan jumlahnya. Hal ini bukan berarti
menunjukkan pelaksanaan program kegiatan penanganan kasus korban kekerasan
terhadap perempuan dan anak tidak berhasil, namun sebaliknya menunjukkan bahwa
pelaksanaan program kegiatan penanganan korban kekerasan berhasil. Meningkatnya
jumlah kasus yang melaporkan ke pusat pelayanan terpadu baik di tingkat
kabupatenjkota maupun provinsi, ini menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat
untuk berani melaporkan adanya kejadian kasus kekerasan terhadap perempuan dan
anak di daerahnya. Sehingga pelaksanaan sosialisasi terkait dengan kekerasan
terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah cukup berhasil baik melalui media
cetak maupun media elektronik.
Sebagai
gambaran, hasil identifikasi kasus korban kekerasan terhadap perempuan dan anak
di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah pada tahun 2009 yang berdasarkan kasus yang
dilaporkan di PPT kabupatenjkota adalah sebagai berikut :
1. Korban
Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.
Berdasarkan
hasil identifikasi kasus kekerasan yang dilaksanakan di 35 KabupatenjKota di
Jawa Tengah tahun 2009 yang dilaporkan dan ditangani oleh Pusat Pelayanan
Terpadu (PPT) KabupatenjKota terdapat 2.478 kasus kekerasan baru, yang tediri
dari 596 kasus kekerasan pada Triwulan I, 584 kasus kekerasan pada Triwulan II,
693 kasus kekerasan pada Triwulan III dan 605 kasus kekerasan pada Triwulan IV.
Dari 2.478 kasus
kekerasan tersebut apabila dipilah menurut jenis kelaminnya terdapat 261 orang
atau 10,39% korbannya laki-laki dan 2.251 orang atau 89,61% korbannya
perempuan.
Secara
lengkap sebagaimana pada tabel berikut :
TABEL 1
KORBAN
KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK TAHUN 2009
|
NO.
|
TRIWULAN
|
JUMLAH
KASUS
|
JUMLAH
KORBAN KEKERASAN
|
|
LAKI-LAKI
|
PEREMPUAN
|
|
1.
|
TRIWULAN I
|
46
|
57
|
540
|
|
2.
|
TRIWULAN II
|
43
|
46
|
537
|
|
3.
|
TRIWULAN III
|
47
|
53
|
629
|
|
4.
|
TRIWULAN IV
|
84
|
105
|
545
|
|
|
JUMLAH
|
2.478
|
261
(10,39%)
|
2.251
(89,61%)
|
Sumber : BP3AKB
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009.
Sedangkan menurut usia korban kekerasan terhadap
perempuan dan anak di Jawa Tengah berdasarkan hasil identifikasi dari 35
kabupaten/kota menunjukkan bahwa terdapat 922 orang atau 37,25% korban
kekerasan berusia 0 sId 17 tahun , 544 orang atau 21,98% korban kekerasan
berusia 18 sId 24 tahun dan 1.009 orang atau 40,77% korban kekerasan berusia 25
tahun keatas. Hal ini nampak sebagaimana pada tabel berikut :
TABEL 2
USIA KORBAN KEKERASAN
TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK TAHUN 2009
|
NO
|
TRIWULAN
|
JUMLAH
KORBAN KEKERASAN
|
|
0 s/d
17 tahun
|
18 s/d
24 tahun
|
25
tahun keatas
|
|
1.
|
TRIWULAN I
|
235
|
142
|
217
|
|
2.
|
TRIWULAN II
|
222
|
126
|
240
|
|
3.
|
TRIWULAN III
|
229
|
145
|
297
|
|
4.
|
TRIWULAN IV
|
236
|
131
|
255
|
|
|
JUMLAH
|
922
(37,25%)
|
544
(21,98%)
|
1.009
(40,77%)
|
Sumber : BP3AKB Provinsi Jawa Tengah Tahun .
Dari
tingkat pendidikan korban kekerasan, terdapat 220 orang atau 9,10% korban
kekerasan yang tingkat pendidikannya termasuk tidak sekolah, 546 orang atau
22,58% korban kekerasan yang tingkat pendidikannya adalah sekolah dasar (SO),
694 orang atau 28,70% korban kekerasan yang tingkat pendidikannya adalah SL TP,
791 orang atau 32,71% korban kekerasan yang tingkat pendidikannya SL TA dan 167
orang atau 6,91% korban kekerasan yang tingkat pendidikannya perguruan Tinggi. Berdasarkan
data diatas menunjukkan bahwa korban kekerasan terhadap perempuan dan anak
tidak memandang tingkat pendidikan. Nampak ada 791 orang atau 32,71% korban
kekerasan yang berpendidikan SL TA dan 167 orang atau 6,91% berpendidikan
perguruan Tinqqi. Sehinqqa ada anqqapan bahwa korban kekerasan banyak yang
terjadi Dada keluarqa yang berpendidikan rendah belum tentu terbukti. Secara
lenqkap dapat dilihat Dada tabel berikut :
TABEL 3
TINGKAT
PENDIDIKAN KORBAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK TAHUN 2009
|
NO.
|
TRIWULAN
|
TIDAK
SEKOLAH
|
SD
|
SLTP
|
SLTA
|
PT
|
|
1.
|
I
|
46
|
148
|
158
|
186
|
36
|
|
2.
|
II
|
43
|
145
|
163
|
173
|
27
|
|
3.
|
III
|
47
|
124
|
176
|
252
|
43
|
|
4.
|
IV
|
84
|
129
|
197
|
180
|
61
|
|
|
JUMLAH
|
220
(9.10%)
|
546
(22,58%)
|
694
(28,70%)
|
791
(32,71%
|
167
(6,91%)
|
Sumber: BP3AKB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009.
Berdasarkan
status pekerjaan, ada 1.504 orang atau 61,24% korban kekerasan yang tidak
bekerja dan 952 orang atau 38,76% korban kekerasan yang mempunyai pekerjaan
tetap. Sehingga kalau kita data diatas menunjukkan bahwa kasus kekerasan
terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Jawa Tengah tidaka memandanq apakah
korbannya adalah sudah bekerja yang mendapatkan penqhasilan sendiri atau tidak
bekeria yanq hanya menqqantunqkan suami.
Sedanqkan
menurut jenis tindak kekerasan yanq terjadi di Jawa Tengah, berdasarkan hasil
identifikasi dari 35 kabupaten/kota nampak sebagaimana terlihat pada tabel berikut :
TABEL 4
JENIS
TINDAK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK TAHUN 2009
|
NO.
|
JENIS
KEKERASAN
|
JUMLAH
KASUS
|
|
BARU
|
BERULANG
|
RUJUKAN
|
|
1.
|
FISIK
|
952
|
23
|
71
|
|
2.
|
PSIKIS
|
557
|
17
|
22
|
|
3.
|
SEXUAL
|
817
|
15
|
76
|
|
4.
|
EXPLOITASI
|
90
|
0
|
10
|
|
5.
|
PENELANTARAN
|
191
|
2
|
5
|
|
6.
|
LAINNYA
|
122
|
5
|
23
|
|
|
JUMLAH
|
2,724
(91,01%)
|
62
(2,07%)
|
207
(6,92%)
|
Sumber
: BP3AKB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009.
Berdasarkan
tabel diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2009, di Jawa Tengah terjadi kasus
tindak kekerasan bersifat fisik sejumlah 1.046 kasus dengan rincian 952 kasus
baru, 23 kasus ulang dan 71 kasus rujukan. Untuk kasus kekerasan bersifat
psikis ada 596 kasus, dengan rincian 557 kasus baru, 17 kasus ulang dan 22
kasus rujukan. Sedangkan kasus kekerasan bersifat seksual terdapat 903 kasus,
dengan rincian 812 kasus baru, 15 kasus ulang dan 76 kasus rujukan. Untuk kasus
eksploitasi seksual terdapat 100 kasus, dengan rincian 90 kasus baru dan 10
kasus rujukan. Sedangkan kasus penelantaran terdapat 198 kasus dengan rincian
191 kasus baru , 2 kasus ulang dan 5 kasus rujukan. Selain jenis kekerasan
diatas ada beberapa kasus kekerasan lain yang dimasukkan pada jenis kekerasan
lain, yaitu ada 150 kasus, yang terdiri dari 122 kasus baru, 5 kasus ulang dan
23 kasus rujukan.
Apabila dilihat
dari tempat kejadian kasus kekerasan, berdasarkan hasil identifikasi dari 35
kabupaten/kota terdapat 1.290 kasus kekerasan baru yang tempat kejadiannya di
dalam rumah tangga, 24 kasus ulang yang terjadi di dalam rumah tangga, 75 kasus
rujukan yang terjadi di dalam rumah tangga; ada 117 kasus baru yang terjadi di
tempat kerja dan 3 kasus rujukan yang terjadi ditempat kerja. Sedangkan kasus
kekerasan yang terjadi di tempat umum terdapat 16 kasus baru yang terjadi
ditempat umum.
Dan kasus
kekerasan yang terjadi ditempat lain terdapat 857 kasus baru yang terjadi
ditempat lain, 22 kasus ulang yang terjadi ditempat lain dan 62 kasus rujukan
yang terjadi ditempat lain.
2. Pelaku
Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.
Berdasarkan
hasil identifikasi yang dilakukan di 35 kabupatenjkota, sampai dengan akhir
Desember 2009 terdapat 2.478 pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak di
Jawa Tengah. Dari 2.478 pelaku tersebut apabila dipilah menurut jenis kelamin,
ada 2.220 orang atau 91,96% laki-laki sebagai pelaku kekerasan dan 194 orang
atau 8,04% perempuan sebagai pelaku kekerasan. Dari pelaku kekerasan terhadap
perempuan dan anak tersebut apabila dilihat berdasarkan usia nampak sebagaimana
pada tabel dibawah ini :
TABEL 5
PELAKU
KEKERASAN TERHADAP PEREM PUAN DAN ANAK TAHUN 2009
|
NO.
|
TRIWULAN
|
JUMLAH
KASUS
|
JUMLAH
KORBAN KEKERASAN
|
|
LAKI-LAKI
|
PEREMPUAN
|
|
1.
|
TRIWULAN I
|
46
|
520
|
61
|
|
2.
|
TRIWULAN II
|
43
|
536
|
38
|
|
3.
|
TRIWULAN III
|
47
|
594
|
41
|
|
4.
|
TRIWULAN IV
|
84
|
570
|
54
|
|
|
JUMLAH
|
2.478
|
2.220
(10,39%)
|
194
(8,04%)
|
Sumber : BP3AKB
Provinsi Jawa Tengah Tahun.
Sedangkan
pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak apabila dilihat berdasarkan usia pelaku
nampak sebagaimana pada tabel berikut :
TABEL 6
USIA
PELAKU KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK TAHUN 2009
|
NO
|
TRIWULAN
|
JUMLAH
KORBAN KEKERASAN
|
|
0 s/d
17 tahun
|
18 s/d
24 tahun
|
25
tahun keatas
|
|
1.
|
TRIWULAN I
|
40
|
180
|
357
|
|
2.
|
TRIWULAN II
|
29
|
145
|
396
|
|
3.
|
TRIWULAN III
|
51
|
156
|
417
|
|
4.
|
TRIWULAN IV
|
93
|
175
|
326
|
|
|
JUMLAH
|
213
(9,01%)
|
656
(27,74%)
|
1.496
(63,25%)
|
Sumber : BP3AKB Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2009.
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa pelaku
kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah usia 0 s/d 17 tahun
terdapat 213 orang atau 9,01 %, ada 656 orang atau 27,74% pelaku kekerasan yang
usianya 18 sid 24 tahun dan ada 1.496 orang atau 63,25% pelaku kekerasan
terhadap perempuan dan anak yang usianya 25 tahun keatas. Sehingga kalau
kita amati bahwa pelaku kekerasan di Jawa Tengah banyak dilakukan sebagian
besar oleh orang-orang dewasa, walaupun juga ada yang dilakukan oleh usia masih
anak-anak.
Apabila dilihat
dari tingkat pendidikannya, pelaku kekerasan di Jawa Tengah berdasarkan hasil
identifikasi dari 35 kabupaten/kota menunjukkan bahwa terdapat 200 orang atau
8,46% pelaku yang tingkat pendidikannya termasuk tidak sekolah, 457 orang atau
19,3% pelaku yang tingkat pendidikannya hanya sekolah dasar (SO), 574 orang
atau 24,3% pelaku kekerasan yang tingkat pendidikannya SL TP, 933 orang atau
39,5% pelaku kekerasan yang tingkat pendidikannya SL TA, dan 200 orang atau
8,46% pelaku kekerasan yang tingkat pendidikannya perguruan Tinggi. Secara
lengkap data tingkat pendidikan pelaku kekerasan sebagaimana nampak pada tabel
dibawah ini :
TABEL 7
TINGKAT
PENDIDlKAN PELAKU KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN
DAN
ANAKTAHUN 2009
|
NO.
|
TRIWULAN
|
TIDAK
SEKOLAH
|
SD
|
SLTP
|
SLTA
|
PT
|
|
1.
|
I
|
64
|
128
|
146
|
182
|
49
|
|
2.
|
II
|
65
|
111
|
136
|
216
|
42
|
|
3.
|
III
|
23
|
92
|
128
|
301
|
56
|
|
4.
|
IV
|
48
|
126
|
164
|
234
|
53
|
|
|
JUMLAH
|
200
(8,46%)
|
457
(19,3%)
|
574
(24,3%)
|
933
(39,5%
|
200
(8,46%)
|
Sumber: BP3AKB
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009.
Dari tabel di atas nampak bahwa pelaku kekerasan
terhadap perempuan dan anak di iwa Tengah pada tahun 2009 yang paling banyak
adalah pelaku yang tingkat pendidikannya SL TA, kemudian SL TP dan Sekolah
Dasar. Hal yang menarik adalah pelaku kekerasan di Jawa Tengah ada 200 orang
atau 8,46% yang tingkat pendidikannya perguruan Tinggi. Sehingga tidak ada
jaminan bahwa orang yang berpendidikan tinggi sedikit akan melakukan kekerasan
terhadap perempuan dan anak.
Dilihat dari status pekerjaan, bahwa pelaku kekerasan di
Jawa Tengah pada Ihun 2009 menunjukkan terdapat 728 orang atau 30,55% pelaku
kekerasan yang )ndisinya tidak bekerja artinya tidak menghasilkan pendapatan,
dan 1.655 orang atau 69,45% pelaku kekerasan yang sudah bekerja artinya
mempunyai penghasilan tetap. Dari data tersebut menunjukkan bahwa ternyata
banyak pelaku kekerasan di Jawa Tengah yang sudah mempunyai penghasilan tetap
(sudah bekerja) yang paling banyak melakukan kekerasan (hampir 69,45%).
Berdasarkan hubungan pelaku dengan korban kekerasan, di
Jawa Tengah ada tahun 2009 menunjukkan bahwa ada 144 orang atau 5,78% pelaku
kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah yang dilakukan oleh orang
tuanya sendiri, 411 orang atau 16,5% pelaku kekerasan yang dilakukan oleh
anggota keluarga, ada 697 orang atau 27,98% pelaku kekerasan terhadap perempuan
dan anak yang dilakukan oleh suami/istri dan terdapat 1.239 orang atau 49,74%
pelaku kekerasan yang dilakukan oleh orang lain. Secara lengkap
data hubungan pelaku ekerasan dengan korban sebagaimana nampak pada tabel
berikut dibawah ini :
TABEL 8
HUBUNGAN
PELAKU KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK TAHUN 2009
|
NO.
|
TRIWULAN
|
ORANG
TUA
|
KELUARGA
|
SUAMI/ISTRI
|
LAINNYA
|
|
1.
|
I
|
34
|
105
|
155
|
283
|
|
2.
|
II
|
27
|
99
|
169
|
281
|
|
3.
|
III
|
36
|
116
|
198
|
316
|
|
4.
|
IV
|
47
|
411
|
175
|
359
|
|
|
JUMLAH
|
144
(5,78%)
|
411
(16,5)
|
697
(27,98%)
|
1.239
(49,74%
|
Sumber : BP3AKB Provinsi Jawa Tengah Tahun
2009.
Kalau kita lihat data diatas menunjukkan bahwa pelaku
kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah pada tahun 2009 hampir
50,26% (1.252 pelaku) adalah orang yang dikenal oleh karban, baik dari kalangan
masih ada hubungan keluarga (paman, kakek, saudara yang lain), juga oleh
suami/istri maupun orang tua yang seharusnya melindungi korban namun mereka
bahkan menjadi pelaku kekerasan.
3. penanganan Korban Kekerasan.
Berdasarkan hasil identifikasi dari 35 kabupaten/kota di
Jawa Tengah, bahwa penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di
Jawa Tengah pada tahun 2009 nampak sebagaimana pada tabel berikut :
TABEL 9
PENANGANAN
KORBAN KEKERASAN TERHADAP PEREM PUAN DAN ANAK TAHUN 2009
|
NO.
|
JENIS
PELAYANAN
|
JUMLAH
KASUS
|
|
BARU
|
BERULANG
|
RUJUKAN
|
|
1.
|
KONSELING
|
1.038
|
18
|
31
|
|
2.
|
RUMAH AMAN
|
76
|
2
|
18
|
|
3.
|
MEDIS VISUM
|
948
|
25
|
103
|
|
4.
|
HUKUM
|
971
|
7
|
88
|
|
5.
|
REHABILITASI
|
68
|
0
|
15
|
|
6.
|
PENDAMPINGAN
|
794
|
12
|
41
|
|
|
JUMLAH
|
2,724
|
62
|
207
|
Sumber :
BP3AKB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009.
Dari tabel
diatas menunjukkan bahwa korban kasus kekerasan baru di Jawa Tengah yang
mendapat pelayanan konseling terdapat 1.038 orang, 76 orang mendapat pelayanan
rumah aman, 948 orang korban mendapat pelayanan medis visum, 971 orang korban
mendapat pelayanan hukum, 68 orang mendapat pelayanan rehabilitasi dan 794
orang korban kekerasan mendapat pelayanan pendampingan kasus. Sedangkan
korban kasus kekerasan ulang yang mendapat pelayanan konseling terdapat 18 orang,
2 orang mendapat pelayanan rumah aman, 25 orang korban mendapat pelayanan medis
visum, 7 orang korban mendapat pelayanan hukum, dan 12 orang korban kekerasan
mendapat pelayanan pendampingan kasus. Dan pada korban kasus kekerasan rujukan,
korban yang mendapat pelayanan konseling terdapat 31 orang, 18 orang mendapat
pelayanan rumah aman, 103 orang korban mendapat pelayanan medis visum, 88 orang
korban mendapat pelayanan hukum, 15 orang mendapat pelayanan rehabilitasi dan
41 orang korban kekerasan mendapat pelayanan pendampingan kasus.
Guna menangani
kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah, telah dibentuk 35
Pusat Pelayanan Terpadu di Kabupaten/Kota. Namun kondisi PPT di masing-masing
kabupaten/kota berbeda satu dengan lainnya, baik dari sisi sarana dan prasarana
yang dimiliki maupun kualitas pelayanan. Namun guna mengurangi perbedaan
tersebut di Jawa Tengah melalui Peraturan Gubernur Jawa Tengah telah dibuat
Standar Operasional Pelayanan Minimal dalam rangka penanganan korban kekerasan
yang dapat menjadi bahan acuan setiap kabupatenjkota dalam membuat SOP di PPT
masing-masing. Selain itu agar dalam pelaksanaan penanganan korban kekerasan
terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah ada dasar hukumnya, maka telah
ditetapkan PERDA tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan penanganan bagi
Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak di Jawa Tengah.
Kegiatan lain
yang dilakukan dalam upaya menangani korban kekerasan adalah telah dibentuk
Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak di Tingkat Provinsi
Jawa Tengah yang dilengkapi dengan hotline servise, telepon sahabat anak
(Tessa) 129 dan Web Site Tessa 129. Selain itu juga telah dikembangkan
pembuatan sistem pencatatan dan pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak
berbasis komunitas, penyusunan modul pendampingan korban bagi pekerja sosial,
pengembangan model penanganan kekerasan berbasis sekolah, pengembangan model
penanganan kekerasan berbasis puskesmas, pelatihan rohaniwan dan pekerja sosial
sebagai pendamping korban kekerasan, pengembangan Rumah Sakit Provinsi Jawa
Tengah sebagai rujukan bagi korban kekerasan, penandatangan nota kerja sarna
mitra praja utama (MPU) yang merupakan kerja sarna antar Provinsi dalam
penanganan korban kekerasan dan trafficking dan lain sebagainya.
**(kontributor_Wien BP3AKB Provinsi Jawa Tengah)
|
Copyright (c) 2009 DINHUBKOMINFO - Pemerintah Prov. Jawa Tengah. All rights reserved
Developed by Telematika, KOICA
|
 |
|