SEMARANG - Sejalan dengan
salah satu isi Sapta Program yaitu penanggulangan kemiskinan dan pengangguran,
Selasa (15/5), Pemerintah Kota Semarang menyelenggarakan Expo lembaga
Pendidikan Non Formal dan Gelar Seni Budaya di Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Kegiatan tersebut
diselenggarakan untuk membuat sebuah gebrakan untuk membangkitkan greget para
pelaku pendidikan non formal dalam menghasilkan produk barang maupun jasa yang
berkualitas dan bermanfaat serta menyentuh rasa kepedulian masyarakat untuk
bergabung sekaligus berkarya di bidang pendidikan non formal.
Acara tersebut diikuti oleh
48 stand peserta, diantaranya dari 22 Lembaga kursus dan pelatihan, 7 desa
vokasi, 4 PKBM dan home schooling, 6 organisasi PNF, 1 sekolah formal, 2 BUMN,
5 Badan usaha swasta, dan sanggar kegiatan belajar.
Ajang yang bertema ‘Dengan
semangat semarang setara pendidikan non formal dan informal melangkah lebih
maju’ ini, ungkap Ketua Panitia Kepala
Bidan PNFI, Nurgayawarti, dapat dijadikan promosi dari lembaga pendidikan non
formal dan informal sebagai pendidikan alternatif.
“Melalui kegiatan ini pula
merupakan perwujudan kepedulian Pemkot Semarang dalam memperkenalkan dan
mengembangkan pendidikan non formal sebagai alternatif pilihan dalam
meningkatkan taraf hidup masyarakat
melalui pendidikan bagi masyarakat yang termarjinalkan karena kondisi
perekonomian atau status sosial yang lemah,” sambungnya.
Hal yang sama diutarakan
Wakil Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, bahwa anggaran pendidikan di Kota
Semarang sudah melebihi undang-undang, yaitu sebesar 37 persen dari APBD.
“Melalui angka yang sebesar itu, sudah barang wajib bagi kita untuk memikirkan
bersama mengenai kemajuan pendidikan di kota Semarang. Baik kesejahteraan
pengajar, sarana dan prasarana pendidikan, dan yang utama bagaimana warga yang
miskin bisa tetap sekolah,” tandasnya.
Dengan jumlah anggaran
pendidikan tersebut, Wakil Walikota meyakinkan bahwa Semarang harus bisa lebih
maju dari daerah lain karena Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa
Tengah. “Sebagai tolak ukur keberhasilan Kota Semarang adalah apabila keadaan
pendidikan kita dapat melebihi ibukota provinsi lain,” sebutnya.
Melalui Expo lembaga
Pendidikan Non Formal ini, merupakan bukti bahwa kita ingin melakukan
pengentasan pengangguran di Kota Semarang yang jumlahnya cukup tinggi.
Implementasi yang dilakukan diantaranya dengan memamerkan lembaga yang concern
dalam pengenatasan pengangguran dengan memperikan pelatihan ketrampilan dan
usaha mandiri.
“Semakin banyak anak usia
produktif kita latih ketrampilannya, maka akan semakin mudah kita untuk menekan
angka pengangguran. Sehingga efek domino yang dihasilkan adalah menurunnya
angka kemiskinan,” tutur Wakil Walikota yang akrab disapa Hendi itu.
“Segala upaya tidak menutup
kemungkinan adanya kendala, dan segala permasalahan pasti ada solusinya. Dalam
hal ini solusinya adalah komunikasi. Bagaimana kita bersinergi dari seluruh
elemen masyarakat untuk saling menutup dan menambal sesuatu yang kurang. Dengan
sinegritas dan kerja keras kita tersebut, saya yakin tema HUT ke 465 Kota
Semarang yaitu ‘Kami bangga menjadi warga Kota Semarang yang aman, nyaman,
tertib warganya, kempling kotanya’ dapat terwujud”.
Hasil yang diharapkan dari
pelaksanaan expo lembaga PNF ini, diantaranya adanya sinergi dalam misi dan
visi dalam memajukan masuarakat melalui pendidikan non formal. Selain itu
masyarakat umum diharapkan menjadi lebih mengenal dan lebih dekat dengan dunia
pendidikan khususnya pendidikan non formal sehingga memicu kepedulian untuk
ikut berkarya dalam mendidik anak bangsa.
Dalam acara tersebut selain
pameran pendidikan dan gelar seni budaya, ada pula lomba stand desa vokasi,
lomba stand pameran, lomba peragaan busana, serta hiburan dari seni lembaga
pendidikan non formal, guru dan karyawan Dinas Pendidikan Kota Semarang, dalam
bentuk peragaan busana, tari tradisional, dance, band, pelajar, komedi, dan
maestro band. Newsroom_Kota Semarang