WONOSOBO - Prosesi hari jadi Kabupaten Wonosobo, rencananya akan dibakukan dalam bentuk Peraturan Bupati atau Peraturan Daerah. Hal tersebut disampaikan Kabag Kesra Setda Kabupaten Wonosobo, Eko Suryantoro, pada lokakarya prosesi hari jadi Kabupaten Wonosobo, Sabtu (10/03), di Resto Ongklok.

 

Rencana tersebut sebagai kesimpulan dalam lokakarya yang dihadiri oleh 35 peserta dari unsur dinas terkait, organisasi seni budaya dan tokoh seni budaya. Untuk membakukan prosesi hari jadi, langkah pertama adalah melalui lokakarya, dilanjutkan dengan pembuatan blue print prosesi hari jadi, yang dirangkum dari pendapat beberapa tokoh seni budaya di Wonosobo.


Tampil sebagai narasumber, tiga tokoh seni budaya Wonosobo, yakni Bambang Sutejo, S.Kar., pelaku seni budaya Wonosobo, Waleko Priadhy, Ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Wonosobo, dan Sartono,S.Pd., himpunan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

Bambang Sutejo menyampaikan, perlunya untuk kembali memaknai songsong agung kirab panji, birat sengkolo dan boyong kedaton, agar sesuai dengan ruh awal pelaksanaan prosesi hari jadi Kabupaten Wonosobo yang jatuh pada tanggal 24 Juli setiap tahunnya. Untuk tanggal pelaksanaan hari jadi telah ditetapkan melalui peraturan daerah nomor 10 tahun 1994.

 

Terkait untuk materi pembakuan prosesi, bambang menekankan agar materi penekanan untuk pembakuan adalah pada rangkaian upacara  prosesi boyong kedhaton , birat sengkala dan pesta rakyat hari jadinya, sehingga tidak kehilangan ruh awal pelaksanaan kegiatan prosesi hari jadi.


 Waleko Priadhy menyampaikan agar kegiatan proses hari jadi sebagai pesta rakyat bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat, karena hal ini bisa menumbuhkan rasa patriotisme, bela negara serta memasyarakatkan nilai-nilai luhur para pendiri daerah dimana masyarakat berpijak, sehingga bisa muncul perasaan satu bangsa satu bahasa. Dan diharapkan melalui prosesi hari jadi, masyarakat bisa kembali pada nilai-nilai kesantunan serta nilai-nilai budaya yang sangat adi luhung.

 

Waleko mengajak agar prosesi hari jadi bisa dikembalikan ke semangat awal pelaksanaan, sehingga bisa menjadi sebuah momentum sejarah untuk menggelorakan semangat membangun dan kegotong royongan dengan dilandasi rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai adat istiadat dan kearifan budaya lokal yang sangat spesifik, khususnya di Kabupaten Wonosobo.


Sedangkan Sartono,S.pd., mengangatkan bahwa himpunan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bukan satu agama atau aliran kepercayaan maupun kelompok paranormal, akan tetapi suatu komunitas pelestari budaya spiritual yang anggotanya terdiri dari perorangan maupun kelompok paguyuban. Prosesi mbirat sengkolo, yang selama ini dilaksanakan sebagai satu rangkaian hari jadi merupakan simbol permohonan kepada tuhan yang maha esa agar wilayah Kabupaten Wonosobo, dan seluruh isinya terbebas dari malapetaka serta pemerintah dan rakyatnya manunggal secara harmonis.


Sementara Sekretaris Daerah, Eko Sutrisno, saat membuka lokakarya menekankan, agar melalui lokakarya ini, adanya sinergitas pengelolaan atraksi seni dan budaya daerah, dengan memformulasikan ulang sekaligus membakukan prosesi hari jadi dan mbirat sengkolo, pada event tahunan peringatan hari jadi Kabupaten Wonosobo. Dan melalaui lokakarya ini, sebagai momentum awal, upaya revitalisasi seni budaya tradisional sebagai salah satu upaya menuju Wonosobo yang lebih maju dan sejahtera.**Kontributor Humas Setda Wonosobo**