Batik Salem, hingga kini masih
digandrungi warga Brebes dan sekitarnya. Terbukti, dari hasil penjualan batik
yang dijajakan secara keliling oleh Eko Sudarto dari kantor ke kantor, selalu
ludes diborong pembeli.
”Saya, mah biasa bawa 30 sampe 40 potong habis,” ujar Eko
Sudarto dengan logat Salem ketika menjajakan dagangannya di Bagian Humas dan
Protokol Setda Brebes.
Eko
menuturkan, dirinya berangkat dari Salem dengan menggunakan angkutan umum.
Tidak hanya ke Brebes, tetapi juga berkeliling ke Tegal, Slawi dan Pemalang.
”Alhamdulillah, laris Mas,” tuturnya.
Sekali
berangkat, dia membawa 30 sampai 50 potong. Kain batik yang dijajakan merupakan
hasil kreasi dari Ibu Mertuanya, Rusmini. ”Sebelum batik salem terkenal, sulit
menjualnya, tetapi sekarang malah di buru rame-rame,” ceritanya, sambil mukanya
melihat langit-langit, mengenang masa lalunya.
Kadang-kadang,
Eko juga membawa batik dari tetangga-tetangganya bila stok dari Mertuanya
habis. Dirinya tidak khawatir kehabisan stok, karena di desanya, Bentarsari-Salem
terdapat sekitar 140 hingga 200 perajin batik yang mayoritas para ibu rumah
tangga.
Dia tanpa
segan menceritakan nilai filosofi dari motif batik yang dijajakannya. Saat itu,
ada 4 motif yang dibawanya yakni motif kembang kantil, galaran kembang
kangkung, wijaya kusuma dan gagak setra. ”Sebenarnya, ada 23 motif batik Salem
tapi ’kita’ mah bawa 4 macam,” ucapnya.
Menurutnya,
masyarakat Salem telah gigih dan tidak minder menciptakan motif-motif yang
variatif dan bernuansa lokal. Antara lain motif bebek boyong, ceplok daun
brambang, ceplok gudang brambang, endog siga ceplok brambang, irisan brambang
sewu, ceplok brebes, sekar jagad brebes, bebek sajodo, ceplok manggaran bebek
sapangon, gudang brambang ukel, brambang sebedheng, parang brambang seling
manggaran dan lain-lain.
Eko
mematok harga Rp 70 ribu hingga Rp 200
ribu rupiah perpotong. Dari hasil penjualannya berkeliling ke empat Kabupaten,
Eko merasa berbangga bisa memenuhi kebutuhan batik. Dan yang lebih
membanggakan, dia merasa Batik Salem telah melekat di hati masyarakat. ”Kapan
lagi kita memakai baju hasil kreasi sendiri, kalau tidak sekarang?” kata Eko
sembari promosi. **kontributorhumasbrebes