Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan pelecehan seksual
yang tercatat pada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan dan Anak Kabupaten
Boyolali hingga bulan April 2012 mencapai 13 kasus. Dari
jumlah kasus sebanyak itu ada yang sampai proses hukum.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak Badan Pemberdayan Perempuan
Perlindungan Anak dan Keluarga berencana (BP3AKB) Kabupaten Boyolali Dinuk
Prabandini di sela-sela Dialog Interaktif dalam Rangka memperingati Hari
Kartini dengan Thema “Menyiapkan Mental Anak dalam Era Globalisasi
yang digelar BP3AKB, Senin (23/4), di Aula Kantor setempat.
Menurut Dinuk Prabandini, meningkatnya jumlah kasus kekerasan KDRT
dan Pelecehan seksual ini diakibatkan adanya keberanian dan
pemahaman Hukum masyarakat meningkat.“ Jumlah kasus yang
tercatat meningkat karena yang melaporkan kasus kekerasan meningkat pula karena
masyarakat semakin paham hokum,” tandas Dinuk Prabandini.
Selain itu, meningkatnya jumlah kasus KDRT dan pelecehan
seksual juga bisa diakibatkan jumlah kasusnya meningkat pula. Dari
jumlah sebanyak 13 kasus , P2TP2A melakukan pendampingan sebanyak 8 kasus salah
satu diantaranya kasus pelecehan seksual dengan korban anak kelas SMP.
Jumlah kasus kekerasan sebanyak itu berasal dari laporan
Polres, laporan Korban, jemput bola Tim P2TP2A kepada korban serta laporan dari
Lembaga Sawadaya Masyarakat. Untuk itu Pihaknya berharap kepada
masyarakat Boyolali jika terjadi kekerasan baik itu korbannya perempuan
dan Anak untuk segera melapor ke P2TP2A Kabupaten Boyolali.
“Dengan dasar laporan itu kami Tim P2TP2A bisa mendalami, memfasiltasi
dan mendampingi korban,” katanya. Selama ini lanjut Dinuk banyak masyarakat
yang belum mengetahui keberadaan P2TP2A, sehingga dengan
sosialisasi P2TP2A ini bisa diketahui masyarakat dan sewaktu–waktu
terjadi kasus kekerasan bisa melaporkannya.
Sementara Kegiatan Dialog Interaktif dengan Thema Menyiapkan
Mental menghadapi Era Globalisasi ini diikuti dari perwakilan siswa dari
11 SMA di Boyolali. Masing – masing perwakilan SMA mengirim 8 siswa dalam
kegiatan tersebut. Seminar dimaksudkan untuk menyiapkan mental
anak menghadapi Era Globalisasi Informasi karena tidak dipungkiri
Era Globalisasi bisa membawa dampak Positif dan negative. “ Kemajuan Teknologi
IT melalui Dunia Maya bisa berdampak positif dan Negatif “ Katanya.
Pihaknya berharap Orang tua murid turut bertanggung jawab mengawasi
anaknya karena dampak Negatif Teknologi IT bisa menjerumuskan anak.
“Kita harus selalu awasi anak, apakan anak kita ke Warnet itu benar–benar
untuk belajar terkait pelajaran di sekolah atau karena tertarik hal-hal yang
Negatif, “ pungkasnya.
Sementara Nara Sumber dalam Dialog dianataranya dari Pengadilan
Negeri Boyoyolali, Dians Kesehatan serta dari Kalangan Lembaga sawadaya
masyarakat yang concern dengan perempuan dan anak. www.jatengprov.go.id/newsroom_Boyolali