BANJARNEGARA -
Pusat Vulkanogi dan Mitigasi Bencana Geologi bersama Badan Penaggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara akan membentuk dan menyusun rencana
kontijensi (rekon) terhadap ancaman bencana geologi atau erupsi Gunung
Dieng.
“Penyusunan
dokumen rencana kontijensi bencana geologi khususnya bencana erupsi
Gunung Dieng bukan hal yang baru dalam rencana kontijensi di tingkat
kabupaten, kita mengundang fasilitator profesional untuk memandu
rekon tersebut,” kata Agus Budiarso dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi saat memberikan sambutan pada acara penyusunan rencana
kontijensi bencana geologi di Aula Surya Yudha Sport, belum lama ini.
Rekon diharapkan menjadi dokumen hidup dan
merupakan komitmen bersama seluruh stakeholder dalam penanggulangan ancaman
bencana geologi di Banjarnegara. “Dalam Rekon nantinya akan
dibuat identifikasi system kegawatdaruratan, kapan aktifitas gunung dieng
dinyatakan berstatus waspada, siaga dan awas, penetapan status ini
penting untuk persiapan menghadapi bahaya erupsi gunung Dieng. Rekon
juga perlu merumuskan kebijakan menyangkut warga berpotensi
terkena bahaya Erupsi Gunung Dieng, karena tinggal dalam kawasan rawan
bencana gunung Dieng,” tambahnya.
Terkait dengan penanggulangan bencana, saat ini
harus dirubah paradigma lama, jika selama ini penaggulangan bencana
hanya saat terjadi bencana saja, kini sudah harus berubah menjadi pada
saat pra bencana melalui pencegahan dan kesiapsiagaan dalam pengurangan
resiko bencana.
“Untuk itu, kita perlu mengubah pola
penanggulangan bencana yang selama ini di titikberatkan hanya pada masa
tanggap darurat bencana, beralih pada pengurangan resiko bencana. Pola
penggulangan bencana tersebut harsu dilaksanakan secara andal,
terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh, sebagai mana
diamanatkan dalam undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang
penaggulangan bencana,” lanjutnya.
Sekretaris Daerah Banjarnegara Fahrudin Slamet
Susiadi pada acara tersebut mengatakan secara Geografis, Geologis,
Hedrologi dan Demografis Wilayah Banjarnegara memiliki potensi bencana
yang beragam dengan pelamparan yang luas. Potensi bencana di
Wilayah Banjarnegara diantaranya , Bencana Tanah Longsor, dimana 60 %
dari luas wilayah Banjarnegara merupakan daerah rawan Gerakan Tanah
Tinggi yang berada di 17 kecamatan. Mayoritas potensi longsor ada di
Pegunungan Serayu Utara mulai dari Kecamatan
Punggelan wilayah barat hingga Kecamatan Pagentan
sebelah timur. “Saat ini ada 4 (empat) daerah yang memiliki
kerawanan sangat tinggi (sangat berbahaya) potensial terjadi longsor
pada musim penghujan memiliki kerawanan sangat tinggi potensial
terjadi longsor pada musim penghujan,” kata Fahrudin.
Selain
longsor Banjarnegara juga rawan dengan bencana kekeringan. Desa-desa
rawan kekeringan pada musim kemarau di Banjarnegara ada kecenderungan
meningkat, bahkan desa-desa yang selama ini tidak mengalami kekurangan
air bersihpun dapat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Sebagian
besar daerah rawan kekeringan ada di Pegunungan Serayu Selatan mulai
dari Kecamatan Susukan sebelah barat
hingga Kecamatan Sigaluh paling timur.
“Secara geologi Pegunungan Serayu Selatan dibentuk
oleh batuan malihan (metanorf) sehingga tidak dapat menyimpan air.
Kondisi pada daerah ini apabila memasuki musim kemarau selama 2 bulan
semua sumur dan mata air sudah kering. Selain itu di Kecamatan Punggelan
di Pegunungan Serayu Utara juga mengalami langganan kekeringan, bahkan
di Wilayah Dataran Tinggi Dieng Kecamatan Batur sudah mulai mengalami
kesulitan air bersih,” lanjut Fahrudin.
Seperti kita ketahui bersama, beberapa waktu yang
lalu , sekitar bulan Mei sampai Juni 2011 telah terjadi bencana
alam berupa “Gas Beracun” dari Kawah Timbang di Desa Sumberejo Kec.
Batur. Bencana tersebut memang tidak menimbulkan korban jiwa, akan
tetapi telah dilakukan pengungsian terhadap warga sekitar daerah
tersebut sejumlah 100 orang selama 14 hari, dan menjadi perhatian
Nasional.
“Bencana tersebut secara psikologis menimbulkan
ketakutan dan kekhawatiran bagi warga masyarakat sekitar kawah, serta
kerusakan lahan pertanian penduduk. Sesuai dengan paradigma
penanggulangan bencana yang baru yaitu Pengurangan Resiko Bencana
menjadi ujung tombak dalam kegiatan penanggulangan bencana,” tambahnya.
Bencana Gunungapi. Di Banjarnegara saat ini
terdapat 7 kawah aktif yang memiliki potensi bencana yaitu Kawah
Timbang, Kawah Sinila, Kawah Sileri, Kawah Sikidang, Kawah Bitingan,
Kawah Candradimuka dan Kawah Pagerkandang. Sesuai karektertistiknya
ancaman aktivitas vulkanisme Gunungapi Dieng selama ini berupa gas
beracun dan semburan lumpur.
Disusunnya Rencana Kontinjensi Bencana Gunungapi
Dieng dapat menjadi acuan dalam penanggulangan bencana gunungapi
sehingga penanganan dapat terlaksana secara profesional. Bencana
lainnya yaitu bencana Banjir seperti di Desa Kalibening Kecamatan
Kalibening, Desa Beji Kecamatan Pejawaran, Desa Karangjati dan Desa
Brengkok Kecamatan Susukan. Sedangkan Bencana Erosin juga kerap terjadi
di Dataran tinggi Dieng , seiring dengan pola tanam atau pertanian
masyarakat di wilayah tersebut.
“Akibat dari erosi selain unsur hara tanah hilang
yang berakibat menurunya produksi pertanian adalah pendangkalan Waduk
Panglima Besar Sudirman (Mrica) sehingga mempengaruhi waktu operasional
atau umur waduk tersebut,” pungkas Fahrudin. www.jatengprov.go.id/newsroom_Banjarnegara