DSC_0188.JPG 

BANJARNEGARA - Pusat Vulkanogi dan Mitigasi Bencana Geologi bersama Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara akan membentuk dan menyusun rencana kontijensi (rekon) terhadap ancaman bencana geologi atau erupsi Gunung Dieng.

“Penyusunan dokumen rencana kontijensi bencana geologi khususnya bencana erupsi Gunung Dieng bukan hal yang baru dalam rencana kontijensi di tingkat kabupaten, kita mengundang fasilitator profesional untuk memandu  rekon tersebut,” kata Agus Budiarso dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi saat memberikan sambutan pada acara penyusunan rencana kontijensi bencana geologi di Aula Surya Yudha Sport, belum lama ini.


Rekon diharapkan  menjadi dokumen hidup dan merupakan komitmen bersama seluruh stakeholder dalam penanggulangan ancaman bencana geologi di Banjarnegara. “Dalam Rekon nantinya akan dibuat identifikasi system kegawatdaruratan, kapan aktifitas gunung dieng dinyatakan berstatus waspada, siaga dan awas, penetapan status ini penting untuk persiapan
menghadapi bahaya erupsi gunung Dieng. Rekon juga  perlu merumuskan kebijakan menyangkut warga berpotensi terkena bahaya Erupsi Gunung Dieng, karena tinggal dalam kawasan rawan bencana gunung Dieng,” tambahnya.


Terkait dengan penanggulangan bencana, saat ini harus dirubah paradigma lama, jika selama ini penaggulangan bencana hanya saat terjadi bencana saja, kini sudah harus berubah menjadi pada saat pra
bencana melalui pencegahan dan kesiapsiagaan dalam pengurangan resiko bencana.

 

 “Untuk itu, kita perlu mengubah pola penanggulangan bencana yang selama ini di titikberatkan hanya pada masa tanggap darurat bencana, beralih pada pengurangan resiko bencana. Pola penggulangan bencana tersebut harsu dilaksanakan secara andal, terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh, sebagai mana diamanatkan dalam undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penaggulangan bencana,” lanjutnya.

 

Sekretaris Daerah Banjarnegara Fahrudin Slamet Susiadi  pada acara tersebut mengatakan secara Geografis, Geologis, Hedrologi dan Demografis Wilayah Banjarnegara memiliki potensi bencana yang beragam dengan pelamparan yang luas. Potensi bencana di Wilayah Banjarnegara diantaranya , Bencana Tanah Longsor, dimana 60 % dari luas wilayah Banjarnegara merupakan daerah rawan Gerakan Tanah Tinggi yang berada di 17 kecamatan. Mayoritas potensi longsor ada di Pegunungan Serayu Utara mulai dari Kecamatan


Punggelan wilayah barat hingga Kecamatan Pagentan sebelah timur. “Saat  ini ada 4 (empat) daerah yang memiliki kerawanan sangat tinggi (sangat berbahaya) potensial terjadi longsor pada musim penghujan
memiliki kerawanan sangat tinggi  potensial terjadi longsor pada musim penghujan,” kata Fahrudin.

 

Selain longsor Banjarnegara juga rawan dengan bencana kekeringan. Desa-desa rawan kekeringan pada musim kemarau di Banjarnegara ada kecenderungan meningkat, bahkan desa-desa yang selama ini tidak mengalami kekurangan air bersihpun dapat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Sebagian besar daerah rawan kekeringan ada di Pegunungan Serayu Selatan mulai dari Kecamatan Susukan sebelah barat
hingga Kecamatan Sigaluh paling timur.


“Secara geologi Pegunungan Serayu Selatan dibentuk oleh batuan malihan (metanorf) sehingga tidak dapat menyimpan air. Kondisi pada daerah ini apabila memasuki musim kemarau selama 2 bulan semua sumur dan mata air
sudah kering. Selain itu di Kecamatan Punggelan di Pegunungan Serayu Utara juga mengalami langganan kekeringan, bahkan di Wilayah Dataran Tinggi Dieng Kecamatan Batur sudah mulai mengalami kesulitan air bersih,” lanjut Fahrudin.


Seperti kita ketahui bersama, beberapa waktu yang lalu , sekitar bulan Mei sampai  Juni 2011 telah terjadi bencana alam berupa “Gas Beracun” dari Kawah Timbang di Desa Sumberejo Kec. Batur. Bencana tersebut
memang tidak menimbulkan korban jiwa, akan tetapi telah dilakukan pengungsian terhadap warga sekitar daerah tersebut sejumlah 100 orang selama 14 hari, dan menjadi perhatian Nasional.


“Bencana tersebut secara psikologis menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran bagi warga masyarakat sekitar kawah, serta kerusakan lahan pertanian penduduk. Sesuai dengan paradigma penanggulangan
bencana yang baru yaitu  Pengurangan Resiko Bencana menjadi ujung tombak dalam kegiatan penanggulangan bencana,” tambahnya.


Bencana Gunungapi. Di Banjarnegara saat ini terdapat 7 kawah aktif yang memiliki potensi bencana yaitu Kawah Timbang, Kawah Sinila, Kawah Sileri, Kawah
Sikidang, Kawah Bitingan, Kawah Candradimuka dan Kawah Pagerkandang. Sesuai karektertistiknya ancaman aktivitas vulkanisme Gunungapi Dieng selama ini berupa gas beracun dan semburan lumpur.


Disusunnya Rencana Kontinjensi Bencana Gunungapi Dieng dapat menjadi acuan dalam penanggulangan bencana gunungapi sehingga penanganan dapat terlaksana secara profesional.
Bencana lainnya yaitu bencana Banjir seperti di Desa Kalibening Kecamatan Kalibening, Desa Beji Kecamatan Pejawaran, Desa Karangjati dan Desa Brengkok Kecamatan Susukan. Sedangkan Bencana Erosin juga kerap terjadi di Dataran tinggi Dieng , seiring dengan pola tanam atau pertanian masyarakat di wilayah tersebut.


“Akibat dari erosi selain unsur hara tanah hilang yang berakibat menurunya produksi pertanian adalah pendangkalan Waduk Panglima Besar Sudirman (Mrica) sehingga mempengaruhi waktu operasional atau umur
waduk tersebut,” pungkas Fahrudin. www.jatengprov.go.id/newsroom_Banjarnegara