Semarang -
Total nilai ekspor nonmigas Jateng periode
Januari hingga Juni 2010 mencapai 1.927,37 juta dolar AS dan impor 4.481,92
juta dolar AS. Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu ada kenaikan
hingga 196,07%.
Dengan demikian
neraca perdagangan luar negeri telah terjadi surplus yang cukup signifikan. Namun
demikian nilai impor dari China sebesar 2.285,86 dolar AS pada 2009 menjadi
4.481,92 juta dolar AS, berarti terjadi kenaikan nilai impor, maka sistem
perdagangan luar negeri perlu ditingkatkan antara nilai ekspornya.
Di sisi lain persentase
impor dari China 25,81% yang masuk di Jateng
menduduki peringkat pertama sejak 2005
dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
Hal
itu terungkap dalam sebuah dialog antara Gubernur Jateng H.Bibit Waluyo
dengan
para eksportir dan importir di Jawa Tengah,
di Au
la
Dinperindag Prov. Jateng
, baru-baru ini. Dialog tersebut dilakukan dalam rangka untuk
meningkatkan daya saing produk lokal, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi di Jateng.
Dialog itu juga
merupakan
tindak lanjut dari laporan kinerja ekspor impor Jawa Tengah. Sejak
Pemberlakuan
ACFTA,
impor dari China meningkat sangat
cepat sehingga diperkirakan tahun ini nilai totalnya menembus 593,97 juta dolar
AS. Ada indikasi ketidakseimbangan dalam transaksi ekspor-impor nonmigas
Jateng.
Dalam acara
dialog tersebut Gubernur Bibit Waluyo menyatakan
bahwa
banyak
hal yang dilakukan oleh pemerintah Jawa Tengah diantaranya memperkuat sektor
pertanian dan tanpa kecuali sektor-sektor lainnya, juga perbaikan terhadap
fasilitas-fasilitas umum dan infrastruktur yang ada termasuk infrastruktur yang
mendorong ekspor seperti re
a
l
i
sasi pembuatan jalan tol Semarang
-
Solo, penambahan panjang dermaga pelabuhan, agar bongkar
muat barang dipelabuhan Tanjung Emas semakin lancar.
Pada kesempatan itu, Gubernur mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi
ekonomi Jawa Tengah. Hal itu telah disampaikan kepada Menteri Perdagangan. Sehingga
Kementerian Perdagangan kemudian mengirimkan Timnya untuk membahas transaksi
ekspor impor yang tidak berimbang.
Dalam pertemuan di
Jakarta dicapai kesepakatan bahwa Surat Gubernur disikapi serius oleh
Pemerintah Pusat dan menunjuk Jawa Tengah sebagai pilot project untuk
pelaksanaan Tim Pengawasan Terpadu Barang - Barang Impor.
Gubernur juga
menghimbau
agar
pengusaha lokal memanfaatkan pasar China untuk meningkatkan ekspor Jateng,
sedangkan membendung barang dari China tidak mungkin dilakukan
.
Dalam Dialog
tersebut beberapa peserta menyampaikan persoalan yan
g
dihadapi dalam meningkatkan daya saing produk lokal
, yaitu :
(1)
Kondisi pelabuhan yang
kurang representattif sehingga diperlukan waktu yang cukup lama dalam proses
bongkar muat. Kondisi ini menyebabkan harga pokok produk meningkat sehingga
menakibatkan harga lebih mahal
.
(2)
Kekurangan daya listrik
dirasakan oleh para pelaku industri menyebabakan mereka ragu-ragu dalam
mengembangkan investasinya
.
(3)
Terdapat beberapa
barang dari luar negeri yang dijual dengan harga dumping
.
(4)
Masih adanya
pajak-pajak yang dibebankan oleh Pemerintah untuk produk ekspor yang bersifat
kontra produktif sehingga mengurangi kemampuan mengekspor produk lokal
.
(5)
Sektor Industri dan
perdagangan mempunyai peranan yang penting dalam pertumbuhan ekonomi Jawa
Tengah, hendaknya Gubernur memberikan
p
erhatian yang besar
seperti
sektor pertanian
.
Menanggapi
hal
tersebut
Gubernur me
n
yampaikan
beberapa
hal
,
yaitu
Pertama, s
etuju bahwa
sektor industri dan perdagangan harus mendapat perhatian besar dari Pemerintah
oleh karena itu Dinas Perindustrian dan Perdagangan diminta memdayagunakan
anggaran yang ada untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.
Kedua,
Dinas Perindustrian dan
Perdagangan
menindaklanjuti pembentukan Tim
Pengawasan Barang Terpadu untuk mencegah/mengurangai peredaran barang impor
yang tidak sesuai dengan peraturan di Indonesia.
Ketiga,
Daya listrik di Jawa
sudah mencukupi dan sekarang mau ditambah lagi dengan daya listrik 700 KWH dari
Rembang. Kemudian ada rencana pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi
di Ungaran dengn potensi 105 Mega Watt. Demikian juga akan dibangun PLTU
Batang.
Keempat,
Sudah dilakukan
pemambahan panjang dermaga sepanjang
200
M dan sekarang yang masih berjalan dan diperkirakan akan selesai pada tahun
2012 adalah penambahan panjang dermaga sepanjang 500 M
eter
.
Kelima,
Melihat banyak nilai
tambah dalam dialog tersebut maka Bapak Gubernur mengharapkan kegiatan semacam
ini dilaksanakan secara rutin 2 atau 3 minggu sekali sebagai mediasi antara
Pemerintah dan para pelaku industri dan perdagangan untuk mewujudkan
pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah.
Pada kesempatan akhir
dialog,
Gubernur
men
egas
kan
akan melakukan apapun
yang diminta ekportir maupun importir sebagai upaya
untuk kemajuan dan kemakmuran rakyat Jawa
Tengah,
Keringatku untuk Rakyatku
yang selalu didegungkan Gubernur Jawa
Tengah mampu menjadi obor dalam dialog.
Di
harapkan dialog Gubernur dengan para ekportir dan importir yang baru
pertama kali dilakukan
itu
akan menjadi sebuah momentum bagi seluruh aparat Dinas
Perindustrian dan Perdagangan untuk melahirkan satu semangat yang lebih
p
eka terhadap perkembangan terakhir di ruang lingkupnya
.
***(Birohumas_kontributorDinperindag)