Semarang, (BT)

Selama tahun 2009, kita semua telah mampu menunjukkan kinerja yang baik, dengan meyakini konsep ‘Bali Ndeso Mbangun Deso’, maka pelaksanaan pembangunan yang hampir beberapa hari menjelang akhir tahun ini telah membuahkan hasil yang sangat membanggakan kita semua.

 

Hal itu dikemukakan Gubernur Jawa Tengah, H. Bibit Waluyo, ketika memberikan pengarahan pada upacara bendera, di halaman Kantor Gubernur, Senin (28/12).

 

Upacara bendera diikuti oleh Sekda, Asisten, staf Ahli, para Kepala Biro, dan jajaran eselon III dan IV serta unsur staf di lingkungan Setda Provinsi Jawa Tengah.

 

Gubernur Bibit Waluyo juga menegaskan, tahun 2009 ini menjadi tahun “pondasi” ke depan, dengan program-program yang tahapannya sudah benar dan cukup mantap telah dilewati. “Tolong ini dipertahankan dan ditingkatkan, karena untuk memasuki tahun 2010, masuk dalam tahapan percepatan dan prioritas sasaran. Disiplin, kesungguhan, keikhlasan, kerjasama, semua dalam tatanan yang benar. Kalau ini sudah benar, beratpun menjadi ringan,” tandas Bibit.

 

Bibit Waluyo mengingatkan bahwa ada beberapa yang belum tercapai dalam tahun ini. Tapi semuanya itu dalam proses perencanaan dan persiapan dan diharapkan tahun 2010 bisa terlaksana dengan baik, yakni antara lain perbaikan Bandara yang sampai saat ini masih dalam tahap perencanaan persiapan. Diharapkan 2010 bandara A. Yani sudah jalan dan pembangunan jalan tol diharapkan cepat selesai pada 2012. Selain itu, dimulainya Pembangunan Waduk Jatibarang, Banjirkanal Timur Semarang, Banjir Kanal Barat Semarang dan Pasar Induk diharapkan nantinya dapat jalan. Demikian pula pembangunan pabrik pakan ternak di Boyolali.

 

Dia berharap agar tahun 2010 untuk percepatan prioritas sasaran hasilnya akan lebih baik dari 2009. “Saya sampaikan kepada Dinas Pertanian agar mulai mapping di Jawa Tengah, produk-produk unggulan kualitas ekspor, misal beras. Beras kualitas ekspor jenis apa, di wilayah mana, akan ditanam. Sehingga daerah A, B, C, D, kualitas ekspor keluar yang selanjutnya produk internal masuk ke tempat yang ekspor tadi, sehingga siklus pertumbuhan ekonomi beras ini nanti bisa jalan,” ungkapnya, seraya mencontohkan kondisi saat ini sedikit terjadi stagnasi, yakni berasnya melimpah, namun sulit dijual ke luar. Karena kondisi di luar Jawa seperti di Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, Palangkaraya, Tarakan, di sebagian Sumatera, Sulawesi, para transmigran asal Jawa kalau pulang ke Jawa mengambil bibit padi yang unggul untuk dibawa keluar Jawa. Sehingga yang ditanampun padinya bagus-bagus, dengan padi yang unggul dan menghasilkan beras yang melimpah, mereka tidak perlu mengambil lagi di Jawa.

 

Ditambahkan, dengan usaha kerja keras, disiplin, keikhlasan, kebersamaan yang sangat baik, ternyata telah menghasilkan berpuluh-puluh penghargaan terbaik yang diterima oleh Jawa Tengah. “Ini menunjukkan kita bekerja, kita dicontoh seluruh Indonesia,” pungkasnya. (*BS)