Berbicara tentang pangan, harus diakui bahwa kondisi
ketahanan pangan di Jawa Tengah cukup menggembirakan, dengan adanya surplus bahan
pangan pokok sumber karbohidrat, seperti padi 3.127,752 ton jagung 2.599,038
ton singkong 3,181,441 ton. Sumber protein juga surplus antara lain daging
102,015.59, telur 27,919.35 ton, susu 39,130.23 (sumber Dinas Lingkup Pertanian
dan BPS, 2011)
Jika kita lihat dari keadaan di atas, kita wajib
bersyukur dan selalu harus bersyukur kepada Allah SWT dan selalu berusaha
memaksimalkan karunia tsb dengan selalu mengkonsumsi pangan yang beragam,
bergizi seimbang sehat dan aman.
Upaya pemenuhan pangan bagi tubuh agar
menjadi sehat, aktif dan produktif tidak
dapat terlepas dari pemenuhan konsumsi makanan yang beragam, bergizi
seimbang dan aman (B2SA). Pangan B2SA adalah ragam bahan pangan baik sumber
karbohidrat, protein, vitamin dan mineral yang bila dikonsumsi dapat memenuhi
kecukupan gizi. Tidak ada bahan pangan yang mengandung semua zat gizi dalam
jumlah yang mencukupi kebutuhan tubuh, sehingga tubuh memerlukan berbagai macam
bahan pangan untuk menjamin semua zat gizi yang diperlukan agar dapat dipenuhi
dalam jumlah yang seimbang. Dengan demikian tidak ada alasan kalau tidak mengkonsumsi
beras maka kesehatan masyarakat akan menurun.
Salah satu cara untuk mengukur seberapa
beragam konsumsi pangan kita, adalah dengan mengukur skor Pola Pangan Harapan
(PPH). Menurut Ir. Gayatri Indah Cahyani, Msi, Skor PPH Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 88,66 meningkat dari
tahun 2010 sebesar 86,02. Berarti
konsumsi pangan masyarakat sudah semakin beragam. Konsumsi pangan yang masih
perlu ditingkatkan adalah umbi-umbian, pangan hewani sayur & buah sedang
yang perlu dikurangi konsumsinya adalah padi-padian.
Untuk lebih meningkatkan penganekaragaman
konsumsi pangan, diakui maupun tidak sangat tergantung pada peran perempuan
atau peran seorang ibu. Hingga saat ini, sekalipun telah banyak
perempuan yang berkiprah di ruang publik, namun demikian perempuan tidak dapat
bahkan tidak mungkin melepaskan diri dari posisinya di ruang domestik. Dan, bila berbicara ranah domestik apalagi bila dikaitkan dengan perempuan,
maka yang biasanya segera terlintas adalah seputar dapur, sumur dan kasur.
Sangat sedikit yang memasukkan kebun atau pekarangan sebagai bagian penting
'kekuasaan' perempuan. Padahal, melalui kebun itulah (selain juga melalui
'dapur') perempuan dapat berperan penting bagi ketahanan pangan keluarga.
Beberapa peran yang dapat dilakukan perempuan dalam upaya
meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan menganekaragamkan konsumsi pangan adalah:
Pertama, perempuan dapat berperan dalam memberikan
'pendidikan' di keluarga akan pentingnya mengonsumsi pangan yang beragam. Harus
diakui bahwa selama ini kita kurang terbiasa untuk memakan beragam bahan
pangan. Terutama yang berkaitan dengan makanan pokok. Sebagian besar masyarakat
kita terpaku pada beras sebagai bahan makanan pokok.
Kedua, perempuan dengan 'kekuasaannya' untuk mengatur
menu keseharian dapat berperan dalam mensosialisasikan kepada seluruh anggota
keluarga tentang pentingnya makanan bergizi dan seimbang. Memang dengan
menurunnya konsumsi beras (yang identik dengan pemenuhan rasa 'kenyang') dapat
diartikan telah terjadi pergeseran paradigma dari makan hanya untuk kenyang
menjadi makan untuk sehat, antara lain dengan menambah porsi asupan
sayur-mayur, buah serta protein. Itulah sebabnya sosialisasi paradigma makan
untuk sehat ini masih harus terus dilakukan.
Ketiga, dengan lebih banyaknya waktu kerja perempuan di
rumah maka sesungguhnya lebih besar pula peluang perempuan dalam memberdayakan
rumah sebagai lahan penyediaan bahan pangan. Bila
dicermati, dari 9 kelompok pangan hampir semua dapat 'diproduksi' di rumah. Diperoleh
melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan. Sangat banyak jenis sayuran yang
mudah perawatannya. Misalnya saja, tomat, cabai, kacang panjang,
kacang merah, labu siam, talas, ubi, sawi, singkong, dan lain-lain. Demikian
juga dengan buah-buahan, ada pepaya, pisang, rambutan, mangga, nangka, alpokat,
dan sebagainya. Bahkan, asalkan ada kemauan, bisa dikatakan bahwa hampir semua
jenis sayur dan buah bisa kita tanam sendiri. Belum lagi, dengan tanaman bumbu
dapur, seperti lengkuas, kunyit, kencur, jahe, dan sebagainya. Dapat juga dengan
menambahkan dengan menanam berbagai jenis tanaman obat seperti lidah buaya,
kumis kucing, sambiloto, dan sebgainya. Kalaupun lahannya terbatas, banyak
teknik berkebun yang bisa diterapkan untuk mengatasinya, mulai dari sistem
tumpang sari, dengan memanfaatkan tas plastik bekas belanja dsb.
Di pekarangan, juga dapat beternak unggas, misalnya.
Selain bisa memperoleh daging dan telurnya, juga dapat memperoleh pupuk alami
yang sangat baik bagi kesuburan tanaman. Sementara potongan-potongan sayur,
kulit buah yang tidak bisa dikonsumsi bisa dipakai sebagai tambahan pakan
ternak. Terjadi sinergi saling menguntungkan. Selain itu di pekarangan juga
bisa memelihara ikan. Seandainya saja hal di atas bisa dilaksanakan tentu akan
sangat membantu terpenuhi kebutuhan protein keluarga. Apalagi, unggas, telur
dan ikan merupakan makanan favorit keluarga.
Optimalisasi pekarangan dipastikan akan dapat menghemat
biaya. Apalagi, bila para ibu bisa menerapkan manajemen penanaman sehingga bisa
mengkonsumsi hasil pekarangan tersebut secara kontinyu. Memang, bila dihitung
per satu jenis tanaman dengan jumlah yang terbatas, maka sepertinya hasil pekarangan
itu tidak ada manfaatnya. Namun, marilah kita coba hitung dalam skala yang
lebih besar dan dalam jangka waktu yang lebih lama (misalnya satu bulan).
Setidaknya setiap hari perlu Rp 3.000 - Rp 5.000,- untuk membeli sayuran dan
bumbu dapur. Dengan jumlah yang kira-kira sama diperlukan untuk membeli buah.
Belum lagi, dengan biaya pengadaan lauk-pauk sekitar Rp 5.000 - Rp 10.000 per
hari. Sehingga setiap bulan setidaknya diperlukan dana sekitar Rp 330.000 - Rp
600.000 hanya untuk membeli sayur, bumbu, buah dan lauk.
Sebagai ibu, bisa membuat makanan-makanan sehat, yang
bahan bakunya dipetik dari pekarangan sendiri, tentu saja dengan tampilan yang
menarik untuk menggantikan makanan ringan tidak bergizi yang sarat dengan zat
berbahaya semacam mono sodium glutamat (MSG) maupun zat warna yang saat ini
banyak dikonsumsi oleh anak-anak.
Sebagai aparat Gubernur Jawa Tengah dalam rangka mendukung
obsesi beliau Bali nDeso mbangun deso, Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa
Tengah sudah mendukung kegiatan pemanfaatan pekarangan mulai tahun 2008 sampai
2012 dan merupakan kegiatan yang multi years. Kegiatan ini melibatkan kelompok
wanita tani, TP. PKK desa maupun aparat desa terkait serta penyuluh pertanian
yang diharapkan akan lebih meningkatkan penganekaragaman konsumsi pangan yang
nantinya akan tercermin pada skor PPH 95 pada tahun 2015. Serta terwujudnya
masyarakat Jawa Tengah yang sehat, aktif dan produktif yang akan mampu bersaing
di era globalisasi ini. *kontributorBKPJateng