SEMARANG (Gedung Berlian) - Gubernur Jawa Tengah H. Bibit Waluyo, Selasa (23/10), menghadiri Rapat Paripurna DPRD Provinsi
Jawa Tengah dengan agenda Penyampaian
Penjelasan/Jawaban Atas Pendapat Badan Anggaran dan Pandangan Umum
Fraksi-Fraksi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah Terhadap Nota
Keuangan APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2013.
Gubernur Jawa Tengah menyampaikan
penjelasan/jawaban secara rinci atas setiap
pertanyaan dari Panitia Anggaran maupun dari Sembilan Fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah.
Pada kesempatan itu, Gubernur menyampaikan terima
kasih kepada segenap Pimpinan dan Anggota Dewan atas apresiasi, saran,
pendapat, permintaan penjelasan terhadap Rancangan APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2013. Terkait beberapa pertanyaan Dewan yang bersifat umum, Gubernur menyampaikan
penjelasan sebagai berikut :
Pertumbuhan Ekonomi (Pertanyaan
dari Badan
Anggaran,
Fraksi Golkar, PKB dan
PDIP). Pencapaian
pertumbuhan ekonomi yang berkualitas
dan bertumpu pada empat pilar strategi
pembangunan (Pro Growth, Pro Job, Pro Poor dan Pro Environment) telah sejalan dengan strategi kebijakan ekonomi makro
yang tertuang dalam RKPD tahun 2013 bab IV tentang prioritas
dan sasaran pembangunan daerah tahun 2013 dan Nota Keuangan APBD Tahun Anggaran
2013. Keselarasan empat pilar
ditunjukkan melalui pencapaian
pertumbuhan ekonomi yang selalu meningkat dari tahun ke tahun, menurunnya jumlah pengangguran dan penduduk miskin, serta pelaksanaan pembangunan yang me-ngedepankan keseimbangan lingkungan
dengan mendasarkan daya tampung dan
daya dukung wilayah.
Pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan, untuk tahun 2012 triwulan pertama sebesar 6,1% sedangkan pada
triwulan kedua sebesar 6,3%.
Inflasi pada bulan Agustus 2012 sebesar 1,08%, namun demikian
pada bulan September 2012 terjadi penurunan harga kelompok bahan makanan,
kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sehingga mengalami deflasi
sebesar 0,16% dan berdampak pada peningkatan kemampuan daya beli masyarakat.
Capaian Pertanian dalam
arti luas dan Koperasi UMKM, antara lain :
Dari sisi produksi
beras menunjukkan kondisi yang positif, hal ini ditandai dengan
perhitungan untuk ARAM II pada bulan Oktober 2012 sebesar 10,199 juta ton dan surplus beras
sampai dengan bulan September 2012 mencapai 3 juta ton.
Penyerapan beras oleh Bulog per Oktober 2012 mencapai 724,31 ribu ton (107,31%) dari prognosa 674,97 ribu ton dengan stock ketersediaan sebesar 335,69 ribu ton.
Sektor perkebunan,
perbandingan
tahun 2011 dengan tahun 2012 (per September) meliputi : produksi gula sebesar 244,19 ribu ton menjadi 259,78 ribu ton
dengan penggunaan varietas unggul baru seluas 13,66 ribu ha menjadi 23,19 ribu
ha; produksi
kopi seluas 36,32 ribu Ha
menjadi 37,22 ribu ha
dengan produksi 9,84 ribu ton menjadi 15,64 ribu ton; produksi kelapa seluas 235,10 ribu Ha
menjadi 236,65 ribu Ha dengan produksi 180,16 ribu ton menjadi 181,58 ribu ton.
Sektor peternakan, perbandingan
hasil tahun 2011 dengan tahun 2012 (per September) meliputi : Peningkatan populasi sapi
potong dari 1,93 juta ekor menjadi 2,01 juta ekor; sapi perah dari
149,93 ribu ekor menjadi 153,65 ribu ekor; kambing dari 3,72 juta ekor
menjadi 3,96 juta ekor.
Dari sisi pengembangan
Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah, perbandingan capaian tahun 2011
dengan tahun 2012 menunjukkan hasil yang semakin baik meliputi : Peningkatan
jum-lah koperasi dari 26.347 unit menjadi 26.735 unit (meningkat 1,47%); Koperasi yang berkualitas dari 4.440 unit menjadi 4.770 unit (meningkat
7,43%); Penyaluran Kredit Kemitraan Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir
dari 480 mitra menjadi 766 mitra dengan realisasi Rp.302,51 Milyar
menjadi Rp.353,93 Milyar; Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencakup
8 sektor usaha dari 1,20 juta UMKM menjadi 1,44 juta UMKM dengan nilai Rp.7,30 Trilyun menjadi Rp.9,94 Trilyun.
Capaian
Bidang Pelayanan Sosial dasar, antara lain :
Bidang Pendidikan, capaian tahun 2010 dibandingkan tahun 2011 menunjukkan
hasil yang semakin membaik meliputi : Peningkatan pemerataan dan
akses layanan pendidikan dasar dengan Angka Partisipasi Kasar pada
masing-masing Kabupaten/Kota rata-rata di atas angka 95%;
Peningkatan kualifikasi tenaga pendidik S1/D4 dari 76,03% menjadi
78,01%; Sarana prasarana pendidikan dasar sesuai dengan standar Nasional
Pendidikan untuk tingkat SD dari 70% menjadi 85,38% dan tingkat SMP dari 73%
menjadi 82,86%. Untuk capaian tahun 2012 terindikasi
positif dan masih dalam proses berjalan.
Bidang
Kesehatan, capaian tahun 2011 dibandingkan
tahun 2012 meliputi : Peningkatan mutu pelayanan kesehatan dasar Puskesmas
sebanyak 867 unit menjadi 877 unit; Pelayanan kesehatan rujukan Rumah
Sakit dari 247 unit menjadi 263 unit; Peningkatan cakupan pelayanan
kesehatan masyarakat miskin non kuota melalui penandatanganan MoU
antara Provinsi dan Kabupaten/Kota dari 15 Kabupaten/Kota meningkat
menjadi 35 Kabupaten/Kota; Penurunan Angka Kematian Bayi pada tahun 2010
sebanyak 10,62 per 1.000 kelahiran hidup, pada tahun 2011 menjadi 10,34 per
1.000 kelahiran hidup; Penurunan angka kesakitan DBD pada tahun 2010
sebanyak 5,68 per 10.000 penduduk, pada tahun 2011 menjadi 1,37 per 10.000
penduduk. Untuk capaian tahun 2012 pelayanan kesehatan
terindikasi positif bahkan usia harapan hidup tercatat 72,01 tahun.
Capaian Bidang
Infrastruktur, capaian tahun 2011
dibandingkan tahun 2012 semakin
membaik meliputi
: Jalan provinsi sepanjang 2,56 ribu km dengan kondisi baik dari
85,72% menjadi 86,06%; kondisi sedang dari 13,97% menjadi
13,65%; kondisi rusak dari 0,31% menjadi 0,29%; Jaringan
irigasi dengan kondisi baik dari 61% menjadi 65,8%.
Capaian
pelaksanaan berbagai
program/kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan menunjukkan hasil
positif dari segi pertum-buhan ekonomi, pertanian dalam arti luas dan Koperasi
UMKM, pelayanan sosial dasar serta pembangunan infrastruktur. Hal ini mengindikasikan
bahwa gerakan Bali nDeso mBangun Deso dalam rangka mewujudkan
masyarakat Jawa Tengah yang semakin sejahtera secara bertahap telah
menunjukkan hasil nyata.
STRATEGI KETAHANAN PANGAN (Fraksi Partai Golkar, Hanura, PKB, dan PAN)
Konsep ketahanan pangan yang meliputi
beberapa aspek telah dilaksanakan yaitu Ketersediaan pangan dengan peningkatan produksi dan pemanfaatan sumber daya
lokal sebagai pangan alternatif sumber karbohidrat
melalui pengembangan komoditas
jagung dan umbi-umbian.
Distribusi untuk meningkatkan akses keterjangkauan dalam jumlah, mutu, aman, merata dan terjangkau oleh
daya beli masya-rakat melalui peningkatan sarana dan prasarana distribusi
berupa pengisian lumbung pangan dan peningkatan kemandirian kelembagaan distribusi pangan melalui Gapoktan.
Konsumsi yang berkualitas dan beragam serta bergizi seimbang dan aman
melalui pengembangan pola konsumsi pangan yang beragam bergizi seimbang dan aman serta peningkatan
optimalisasi pemanfaatan pekarangan dengan membangun
demplot-demplot percontohan, pemantauan dan pengawasan keamanan pangan
berupa : sertifikasi dan pelabelan serta pengawasan batas maksimum residu buah
dan sayur segar; sertifikasi benih dan produk pangan komoditas
buah-buahan; pengelolaan dan pembinaan warung sekolah.
Kondisi ketahanan pangan di Jawa Tengah dilihat dari peta Ketahanan dan Kerawanan
Pangan Tahun 2011 yang berdasarkan 13 indikator, dari 35
Kabupaten/Kota semuanya berwarna hijau tua berarti sangat tahan pangan. Sebagai implementasi kebijakan strategis Gerakan Pembangunan Mandiri Pangan telah ditempuh melalui pemberdayaan dan
penguatan kelembagaan masyarakat serta penguatan sistem ketahanan
pangan. Sampai
dengan tahun 2012 telah terfasilitasi 260 desa sebagai Desa Mandiri Pangan yang
tersebar di 31 Kabupaten/Kota.
Upaya lain adalah pemberian dana stimulan untuk mendukung
kegiatan Gerbang Mapan kepada 200 kelompok petani di 18 Kabupaten dan 1 Kota.
Dalam
rangka pengurangan impor komoditas pertanian ditempuh melalui : pembinaan dan pelatihan
kepada petani dalam rangka peningkatan
kualitas produk untuk mencukupi
kebutuhan konsumsi masya-rakat;
pembangunan demplot; fasilitasi cold storage dan screen house;
bantuan alsintan; pemberian stimulan untuk diversifikasi produk-produk
pertanian yang memberikan nilai tambah; pameran produk unggulan lokal
hortikultura; pembukaan akses dan jejaring pasar ekspor.
Dalam upaya pengurangan pemasaran impor daging, melalui Forum Mitra Praja Utama disampaikan rekomendasi
kepada Presiden untuk peninjauan ulang impor daging dan sapi bakalan. Adapun sebagai upaya pembatasan impor beras
ditempuh melalui peningkatan produksi dan
produktivitas padi dalam rangka memperkuat cadangan beras nasional.
Perhatian pemerintah
kepada daerah penyangga penghasil beras ditempuh melalui pemberian stimulan
bantuan benih, pupuk, alsintan dan perbaikan jaringan irigasi serta pembangunan
jalan usaha tani.
Sebagai upaya
mempertahankan eksistensi lahan-lahan pertanian produktif terhadap
pemanfaatan industri dan perumahan ditempuh melalui: pengendalian pemanfaatan
ruang agar sesuai peruntukannya berdasarkan Perda RTRW Provinsi dan
Kabupaten/Kota; optimalisasi kinerja BKPRD dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil
Bidang Penataan Ruang; Pembinaan kepada Kabupaten/Kota dalam rangka penerbitan ijin
alih fungsi tetap mempedomani regulasi RTRW yang
telah ditetapkan.
OPTIMALISASI PELAYANAN PUBLIK (Fraksi
PKS, Partai Golkar dan PAN)
Guna
mengembangkan potensi dan daya saing
daerah dilaksana-kan antara lain melalui : Penyelenggaraan Survey Daya Saing
Daerah
di Kabupaten/Kota sebagai bentuk kerjasama Pemerintah
Provinsi dengan Bank Indonesia, GIZ-RED dan Media Suara Merdeka, untuk
memberikan penilaian kinerja ekonomi, persepsi iklim bisnis, kinerja
pemerintah, infrastruktur dan dinamika bisnis ; Fasilitasi
kerjasama antar daerah dalam
upaya pengembangan ekonomi lokal dan regional antara lain di bidang pariwisata, pendidikan dan promosi
produk usaha; Fasilitasi
pengembangan dunia usaha melalui
optimalisasi Business Development Services, klinik usaha dan temu bisnis serta pengem-bangan OVOP; Penyusunan
profil usaha Kabupaten/Kota pada klaster industri, pertanian
dan pariwisata melalui optimalisasi
peran Forum Pengembangan Ekonomi Sumber Daya Daerah yang bermitra dengan FEDEP
Kabupaten/Kota; dan Pemanfaatan
Teknologi Informasi dan fasilitasi pameran/promosi di dalam dan luar daerah termasuk didalamnya pengembangan sistem inovasi daerah.
Dalam rangka peningkatan kualitas
pengendalian lingkungan hidup telah
dilaksanakan langkah-langkah kongkrit meliputi : Penanganan
permasalahan kerusakan di wilayah pesisir dan laut dengan pembangunan sabuk pantai 2,39 ribu m dan penanaman mangrove 214 ha ; Rehabilitasi kawasan lindung di luar
kawasan hutan di 31 Kabupaten seluas
2,89 ribu ha; Fasilitasi penanganan sumber-sumber pencemar
dari kegiatan industri kecil, rumah tangga dan usaha ternak bagi 610 unit usaha; dan Menindaklanjut
pengaduan masyarakat atas permasalahan lingkungan 82 kasus.
Adapun pada tahun 2013 diproritaskan untuk
penyelesaian target RPJMD Provinsi Jawa Tengah 2008-2013 meliputi Peningkatan
upaya pengelolaan lingkungan hidup yang berdampak langsung terhadap masyarakat ; Evaluasi
pelaksanaan dan penyempurnaan peraturan bidang lingkungan hidup di daerah dan Mendukung implementasi Rencana Aksi Daerah
Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dan Program MDG’s.
Dalam rangka pemantapan tata kelola pemerintahan
yang baik guna mendukung peningkatan
pelayanan publik ditempuh
melalui Peningkatan kapasitas SDM aparatur pemerintah daerah melalui
diklat bagi 4,59 ribu aparatur, bintek di SKPD dan tes kompetensi bagi pejabat
struktural dan fungsional umum ; Peningkatan
kapasitas kelembagaan melalui evaluasi dan penataan kelembagaan di 48 SKPD ; Pengembangan ketatalaksanaan melalui pengukuran Indeks
Kepuasan Masyarakat pada 7 Unit Pelayanan Publik dan peningkatan Standar
Manajemen Mutu/Sertifikasi ISO 2008:9001 pada 17 SKPD, penerapan 9 bidang urusan
SPM serta penyusunan SOP ; Penataan
dan pengawasan produk hukum daerah melalui penyusunan dan penyempurnaan 11
Perda Provinsi serta evaluasi 100 Raperda dan klarifikasi 110 Perda/Perkada
Kabupaten/Kota ; Optimalisasi
pemanfaatan teknologi informasi melalui LPSE, SIMBANGDA, SIPPD dan SIPKD dan Peningkatan
pelayanan kepada wajib pajak kendaraan bermotor melalui Sistem Online
pada Samsat Induk, Samsat Pembantu dan seluruh UP3AD; Pelayanan SMS 9600; Layanan Samsat
Keliling, Gerai Mall dan Drive Thru.
Upaya
untuk mewujudkan pemerataan
kesejahteraan masyarakat telah dilakukan melalui program/kegiatan antara
lain :
Akses pelayanan
pendidikan yaitu Pendampingan BOS untuk SD/ SDLB/MI dari 3,23 juta siswa
menjadi 3,75 juta siswa dan untuk SMP/ SMPLB/MTS dari 1,23 juta siswa menjadi
1,26 juta siswa.
Akses pelayanan
sosial meliputi : Pendampingan Program Keluarga Harapan dari 7
Kabupaten/Kota menjadi 15 Kabupaten/Kota; Pembe-rian bantuan Usaha Ekonomi Produktif bagi
Wanita Rawan Sosial Ekonomi dari 250 orang menjadi 1.250 orang;
Akses pelayanan
insfrastruktur lingkungan
permukiman meliputi: Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis
Masya-rakat sampai dengan tahun 2012 telah dilaksanakan di 1.858 desa;
Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni sampai dengan tahun 2012 sebanyak 3.400
rumah; Perbaikan bagi Rumah Tangga Miskin mencapai 2.890 unit rumah; Perbaikan
kualitas lingkungan permukiman mencapai 5.546 lokasi; Pembangunan PLTMH di 9
lokasi di 3 Kabupaten; dan Pembangunan PLTS-SHS sebanyak 2.637 unit di 14
Kabupaten.
Akses pengembangan pemberdayaan ekonomi kerakyatan meliputi: bantuan permodalan untuk
meningkatkan peran dan fungsi Usaha Ekonomi Desa-Simpan Pinjam 154 unit; Pasar
tradisional/desa 178 unit; Kelompok Usaha Bersama 435 kelompok; dan Bantuan
kepada Desa Berkembang 1.776 desa.
Melalui
pelaksanaan program/kegiatan tersebut mampu memberikan kontribusi terhadap perbaikan beberapa indikator yang mendukung pemerataan kesejahteraan, capaian tahun
2011 dibandingkan tahun 2012 meliputi : Penurunan prosentase penduduk miskin dari
16,21% menjadi 15,34% ; Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka dari
5,93% menjadi 5,88% ; Peningkatan layanan air bersih perdesaan dari 18%
menjadi 20,3% dan perkotaan dari 38,9% menjadi 40,6% ; Peningkatan
layanan sanitasi dasar dari 58,4% menjadi 60,5%. Selanjutnya pada tahun 2013 dikembangkan pula rintisan
Bantuan Infrastruktur Desa untuk 285 desa masing-masing Rp.100 juta.
PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN (Badan Anggaran, Fraksi Hanura, PDIP, PPP, Partai Golkar,
PKS dan PAN)
Pengukuran kemiskinan ditentukan secara
nasional oleh BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (Basic
Needs Approach) yang ditentukan dengan nilai garis kemiskinan, dan
perhitungannya mendasarkan kondisi riil ekonomi di masing-masing wilayah. Atas saran Dewan untuk menaikkan angka garis kemiskinan tidak
serta merta dapat dilakukan karena untuk menentukan garis kemiskinan harus ditempuh melalui metode dan mekanisme baku yang hanya dapat dilakukan oleh
institusi yang berkompeten yaitu BPS.
Upaya
yang ditempuh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mencapai target penurunan tingkat kemiskinan pada
tahun 2013 tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah, Kebijakan Umum APBD,
Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara, yaitu melalui :
Bidang
Kesehatan antara lain meliputi : peningkatan jaminan pelayanan
bagi masyarakat miskin melalui program Jamkesmas dan Jamkesda; peningkatan
penjaringan dan penanganan kasus gizi kurang dan gizi buruk; pelayanan MOP dan
MOW dalam rangka mendukung program keluarga berencana; peningkatan akses air
minum dan sanitasi bagi Rumah Tangga Miskin di perkotaan dan perdesaan;
peningkatan pemenuhan kecukupan energi dan diversifikasi konsumsi pangan.
Bidang Pendidikan antara lain :
pendampingan BOS; pemberian bea-siswa bagi keluarga kurang mampu; pendidikan
kesetaraan, pendidikan kemasyarakatan,
pendidikan vokasi dan desa vokasi (kewirausahaan desa).
Bidang
Pemberdayaan antara lain : usaha ekonomi masyarakat pesisir untuk wanita pesisir, taruna pesisir dan
nelayan;
bantuan sosial Usaha Ekonomi Produktif bagi Wanita Rawan Sosial Ekonomi dan
Keluarga Rawan Sosial Ekonomi; pendampingan kepada Koperasi UMKM untuk
kemudahan akses permodalan.
Bidang
Ketenagakerjaan antara lain : pengembangan kewira-usahaan; pelayanan, penempatan,
pembinaan dan pemberdayaan tenaga kerja dalam dan luar negeri; optimalisasi
AKL, AKAD dan AKAN;
peningkatan kualitas dan ketrampilan tenaga kerja;
Bidang Perumahan
Permukiman antara lain : peningkatan sarana prasarana pedesaan,
stimulan perbaikan rumah bagi masyarakat miskin untuk Rumah Tidak Layak Huni dan Rumah Tangga Miskin, serta pem-bangunan
rumah panggung untuk daerah rawan bencana banjir/rob.
Dalam rangka mengurangi beban masyarakat miskin dan meningkatkan pendapatan masyarakat
telah dilaksanakan program perlindungan sosial dan pelayanan dasar masyarakat
merupakan keter-paduan program Pusat dan Daerah, dilaksanakan melalui
pendekatan empat Klaster yaitu Klaster
Bantuan Sosial Berbasis Keluarga; Klaster Pemberdayaan Masyarakat; Klaster Pemberdayaan Usaha Ekonomi Mikro dan Kecil; serta Klaster Program-Program Pro Rakyat Lainnya, sebagai antisipasi apabila terjadi situasi emergensi.
Selain itu dalam
rangka percepatan penurunan
tingkat kemiskinan di
Jawa Tengah telah diusulkan program/kegiatan melalui dana APBN untuk program
akseleratif penanggulangan kemiskinan. Penurunan tingkat
pengangguran berkorelasi langsung terhadap penurunan kemiskinan, hal ini dapat terlihat dari
capaian penurunan tingkat pengangguran selalu diikuti dengan capaian penurunan
angka kemiskinan.
NILAI TUKAR PETANI (Fraksi Hanura, PDIP, PPP, Partai Golkar)
Nilai Tukar Petani (NTP)
posisi bulan
September 2012 sebesar 105,57 adalah
capaian sementara, sehingga dengan memper-timbangkan kontribusi dari
masing-masing sub sektor yang sudah di atas 100 yaitu : Perkebunan
Rakyat 117,08; Perikanan 110,13; Peternakan 107,92; Tanaman pangan 104,79;
Hortikultura 100,36; dan adanya panenan pada akhir tahun maka target NTP Tahun 2012 sebesar 107,84 optimis dapat tercapai. Selanjutnya untuk pencapaian Target
NTP Tahun 2013 sebesar 108,67 akan tercapai
dengan prasyarat pembangunan
pertanian difokuskan pada agribisnis; Peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan, hortikultura,
peternakan, perikanan, perkebunan; Peningkatan
keterampilan SDM petani dan
penguatan kelembagaan kelompok tani; serta pengembangan
infrastruktur pendukung.
Hasil produksi tanaman tembakau tahun 2012 meningkat
tetapi nilai jualnya tidak menguntungkan, karena kapasitas pengusaha
untuk menampung produksi tidak mencukupi sebagai dampak supply dan demand. Upaya yang ditempuh untuk melindungi
petani adalah dengan penerapan
Sapta Usaha Tani yang didukung
modernisasi pertanian secara
bertahap dan berkelanjutan, sedangkan untuk petani tembakau dalam jangka pendek ditempuh melalui
fasilitasi kepada Gabungan Pengusaha Pabrik Rokok Indonesia agar petani
memperoleh harga jual yang memadai sedangkan untuk jangka panjang perlu penerapan pola diversifikasi dengan komoditas
lain (model tumpang sari kopi dengan tembakau).
UPAYA MENDORONG INVESTASI (Fraksi
Partai Demokrat dan Partai Golkar)
Strategi investasi
ditempuh melalui : penyederhanaan regulasi perijinan investasi, penciptaan
iklim kondusif, peningkatan infrastruktur pendukung investasi, penyediaan
energi yang cukup, promosi potensi
dan peluang investasi secara selektif dan terpadu, fasilitasi klinik investasi,
peningkatan pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu, serta peningkatan kualitas
dan kompetensi tenaga kerja.
Selanjutnya upaya
untuk alternatif PAD melalui
peningkatan kerjasama investasi telah dilakukan diantaranya melalui rintisan
kerjasama pengelolaan blok migas Cepu, pemanfaatan aset PD. Citra Mandiri, serta optimalisasi pada unit-unit usaha
daerah.
PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PRIORITAS (Fraksi
PPP dan PAN).
Perkembangan pembangunan Bandara Internasional A.
Yani sampai dengan saat
ini yaitu : Fasilitas sisi udara meliputi pekerjaan stabilisasi tanah
untuk Appron dan exit taxiway dengan progres 83,34%, dan ditargetkan selesai pada Desember 2012 yang
dilanjutkan dengan pembangunan fisik Appron dan exit taxiway dengan
target penyelesaian tahun 2013. Fasilitas
sisi darat, meliputi konstruksi
untuk pekerjaan jalan akses dalam kawasan terminal; terminal dan fasilitas
penunjang; bangunan pelengkap lainnya, dan saat ini dalam tahap proses pelelangan.
Pembangunan Jalan akses menuju terminal
sepanjang 700 m, saat ini telah
terbangun sepanjang 267,5 m pada satu sisi, dan sampai akhir Desember akan
diselesaikan tambahan sepanjang 150 m. Selanjutnya penyelesaian kekurangan
sepanjang 282,5 m akan dilaksanakan pada tahun 2013.
Perkembangan Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo meliputi : Tahap I Seksi 2 Ungaran-Bawen
sepanjang 11,99 km dengan capaian pembangunan
konstruksi sebesar
44,22%, dan peng-adaan tanah sebesar 92,81%.