DEMAK  –             Perkumpulan Petani Pengelola Air (P3A) Tani Makmur Desa Cabean Kecamatan Demak Kota mewakili Kabupaten Demak dalam lomba pengairan tingkat provinsi. Saat ini, paguyuban yang beranggotakan 20 petani itu bahkan telah masuk di peringkat tiga besar.


Terkait dengan hal tersebut, tim penilai dari Provinsi Jawa Tengah melakukan penilaian dan verifikasi lapangan ke desa yang juga terkenal sebagai sentra industri celana dalam itu, belum lama ini.

 

Tim yang dipimpin Ir Sugianto MM, disambut Wakil Bupati Drs H Dachirin Said SH Msi, Kepala Bappeluh KP Wahyu Tri Hapsari, Camat Demak Kota Edi Suntoro, Kades Cabean Karsiman, serta jajaran pengurus P3A Tani Makmur.  Selanjutnya, tim melakukan penilaian menyangkut administrasi juga melihat langsung kondisi sarana dan prasarana irigasi yang dikelola P3A Tani Makmur. Mereka sekaligus melihat sejauh mana pengairan di Cabean bisa bermanfaat bagi masyarakat.


”Ada sejumlah aspek yang kita nilai. Diantaranya menyangkut managemen organisasi, teknis pertanian dan operasional pemeliharaan sarpras, pembiayaan, serta aspek pembinaan. Kami tidak mau percaya begitu saja dengan data yang disajikan, makanya kami juga melakukan penilaian langsung ke lapangan,” kata Sugianto.


Dikatakan, saat ini P3A Tani Makmur Desa Cabean sudah berada di posisi tiga besar bersama paguyuban wakil dari Kabupaten Pekalongan dan Banyumas. Karena Jawa Tengah hanya bisa mengirimkan satu wakil untuk maju di tingkat nasional pada Mei mendatang, maka dari tiga itu akan dipilih satu yang terbaik.


Sekretaris P3A Tani Makmur Sunardi menjelaskan, sawah di Desa Cabean yang tercover pengairan luasnya mencapai 286 hektar. Adapun airnya berasal dari Embung Kaliombo. Sejauh ini embung tersebut memiliki debit air mencukupi lantaran volumenya cukup besar. Panjangnya mencapai 2,5 kilometer, dengan lebar 12 meter dan kedalamannya 3 meter.


”Embung ini multi fungsi. Selain airnya untuk pengairan, embung juga menjadi jalur lalu lintas mengangkut hasil pertanian. Untuk mengangkut padi, semangka maupun hasil panen lainnya, petani Cabean memang masih banyak yang lebih suka menggunakan perahu. Maklum, lebih efisien,” ungkap Sunardi.


Dia mengatakan, untuk keperluan operasional maka setiap anggota dibebani iuran. Setiap musim tanam (MT) I, iuran untuk masing-masing anggota sebesar Rp 400 ribu/hektar. Kemudian pada MT II besaran iurannya hanya sebesar Rp 200 ribu/hektar.


”Iuran itu kita gunakan untuk perawatan sarpras, pengadaan pompa air termasuk memenuhi kebutuhan bahan bakarnya, serta berbagai kegiatan sosial. Sejauh ini kita telah memiliki 12 pompa air. Setiap tahunnya, kita membutuhkan solar rata-rata mencapai 10 ribu liter,” katanya.


Sunardi menambahkan, pompanisasi memang perlu dilakukan agar sawah para anggota P3A bisa terairi dalam waktu relatif bersamaan. Hal itu penting agar petani bisa melakukan penanaman serempak. Dengan begitu, siklus hama bisa terputus dan jika pun ada akan lebih mudah dikendalikan.


Sementara Wakil Bupati Dachirin Said mengatakan bahwa sejauh ini Kabupaten Demak tercatat sebagai lumbung padi Jawa Tengah. Bahkan, selama empat tahun terakhir berturut-turut Demak menerima penghargaan dari presiden karena tingkat produksi padinya mengalami kenaikan di atas lima persen.     


”Itu semua bisa tercapai tentu saja juga lantaran adanya pengelolaan air yang baik oleh P3A-P3A yang ada di Demak,” ujar Wabup Dachirin. *(Humas Demak-NDR)