psda.jpg

Pembangunan Klante Permanen Rawa Pening yang ditargetkan selesai pada tahun 2012 saat ini telah mencapai progress fisik 79,87%. Pembangunan Klante permanen rawa pening ini dibangun dengan sumber dana APBD tahun 2011-2012, melalui Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Tengah, dilaksanakan dalam 2 tahap, yaitu Tahap I berupa pemancangan tiang (TA. 2011) dan Tahap II untuk jembatannya (TA. 2012).


Bangunan Klante Rawapening terbuat dari konstruksi tiang pancang beton setinggi 2,60 m dari dasar rawa yang dipasang menyeberangi rawa pening sepanjang 330 m dari sisi Dusun Sumurup, Desa Asinan, Kecamatan Bawen ke arah Dusun Cikal, Desa Tuntang, Kecamatan Tuntang. Bagian atas bangunan ini selebar 2 m sehingga mirip jembatan dan dapat dilalui kendaraan roda 2. Di bagian tengah klante terdapat 2 buah celah selebar 25 m dan 10 m untuk lalu lintas perahu humus dan wisata air. Dalam jangka panjang, bagian celah ini dapat dihubungkan dengan jembatan pelengkung baja.

psda2.jpg

Beberapa permasalahan yang ada di waduk Rawapening tidak hanya masalah sumber daya air yang berupa pemanfaatan dan pengelolaan air, tetapi pemanfaatan/penggunaan lahan yang tidak sesuai dan melampaui kapasitas. Permasalahan yang paling serius saat ini adalah pertumbuhan enceng gondok secara tak terkendali pada permukaan air waduk Rawapening sehingga hampir menutup seluruh permukaan perairan Rawapening. Penyebab suburnya pertumbuhan enceng gondok disebabkan faktor lingkungan, temperatur/suhu permukaan air, juga didukung unsur hara yang terlarut dalam perairan serta kurangnya hama alami dan belum adanya penanganan secara tepat dan berkesinambungan.


Laju perkembangan enceng gondok yang tidak terkendali dapat mengganggu aktivitas dan pekerjaan masyarakat sekitar rawapening, dan menyebabkan luas permukaan air menyusut hingga tinggal 30%. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya suplai debit irigasi dan PLTA dan menambah pendangkalan rawa akibat pembusukan enceng gondok. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dan masyarakat antara lain dengan membuat klante bambu, namun tidak bertahan lama sehingga enceng gondok memenuhi kanal tuntang dan menimbulkan banjir ke hulu di kecamatan Tuntang, Banyubiru dan Ambarawa.  (kontributorpsdajateng)