Gubernur Bibit Waluyo.jpg

Judul Asli, DARI RAKYAT UNTUK RAKYAT 

oleh : H. Bibit Waluyo

Gubernur Jawa Tengah. 



            “Tentara Nasional Indonesia (TNI) lahir dari rakyat dan mengabdi untuk rakyat, dimana saja berada dan kapan saja”, itulah yang tertanam dan terpatri dalam benak pribadi saya.  Saya bangga menjadi TNI, karena TNI memiliki tugas yang sangat mulia, yaitu melindungi rakyat dan mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, sejak lulus SMA Negeri Demak tahun 1968, saya memilih melanjutkan pendidikan di AKABRI Darat Magelang, dan lulus tahun 1972. Dengan Pangkat Letnan dua, saya mengawali karier militer tahun 1973 menjadi Dantonpur Kodam II/Bukit Barisan.

 

 Taruna Akmil.jpgSaya bersyukur, atas do`a dan dukungan anak-istri saya serta kerjasama yang baik Saudaraku rekan-rekan TNI dalam setiap pelaksanaan tugas, mulai tahun 1986 saya mendapat kepercayaan Negara mengemban amanah jabatan struktural di berbagai kesatuan TNI AD, antara lain menjadi Komandan Batalyon Infanteri (Brigif 407 Slawi Tahun 1986-1988) berhasil menghimpun pasukan besar dan sukses 5 kali tugas operasi di Timor-Timur. Tahun 1996 saya menjadi Komandan Korem 043/Garuda Hitam di Lampung, dan mulai tahun 1997 kepercayaan meningkat memasuki jabatan elite di jajaran TNI AD, antara lain sebagai Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro (1997), Panglima Kodam IV/Diponegoro (1999), Komandan SESKOAD (2000), Panglima Kodam Jaya (2001), terakhir menjabat sebagai Panglima Kostrad (2002) dengan pangkat Letnan Jenderal TNI AD hingga purna tugas tahun 2004.

 

Berbagai kursus telah saya ikuti, antara lain Kursus Reguler Staff Umum & Komando AD (SESKOAD) di Bandung tahun 1989, Penataran Komandan Kodim di Cimahi tahun 1992, Penataran Kewaspadaan Nasional di Yogyakarta tahun 1993, Kursus Dasar Staf Umum & Komando ABRI (SESKO ABRI) di Bandung tahun 1994/1995 dan Kursus Lemhannas di Jakarta tahun 1998.

 

 Letjen H Bibit Waluyo.jpgPenghargaan tanda jasa yang saya miliki, adalah S.L. Seroja Tim-Tim, S.L. Kesetiaan VIII, S.L. Kesetiaan XVI, S.L. Kesetiaan XXIV, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Dwija Sista, Bintang Dharma, dan Bintang Maha Putra Utama yang saya peroleh tahun 2011 di saat menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.

 

Pengalaman organisasi telah saya jalani, baik di lingkup TNI maupun yang berkaitan dengan kalangan masyarakat bawah, yaitu sebagai Ketua Paguyuban masyarakat Jawa Tengah di Jakarta dan menjadi Pembina/Pelindung Paguyuban Mie Bakso Nusantara.

 

Berbagai pengalaman di bidang militer dan organisasi, menjadi bekal saya untuk melanjutkan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Eampat tahun saya menjalani masa Purna Tugas, dalam Pemilukada Langsung tahun 2008, saya memperoleh kepercayaan rakyat dan terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah periode 2008-2013 dengan dukungan 43,44% suara. Sejak tanggal 23 Agustus 2008 saya resmi dilantik oleh Mendagri Mayjen TNI Purnawirawan H. MARDIYANTO atas nama Presiden RI, menjadi Gubernur Jawa Tengah.

 


Pelantikan.jpg“KERINGATKU UNTUK RAKYATKU”
dan “RAKYAT JAWA TENGAH HARUS SEJAHTERA”, itulah tekad pengabdian dan obsesi saya menjadi Gubernur Jawa Tengah. Tidak ada niat lain dalam hati saya, selain kerja keras dan mengabdi untuk rakyat. Tidak ada sedikitpun dalam fikiran dan hati saya menjadi Gubernur untuk korupsi apalagi memperkaya diri, tidak ada. Meskipun medan juang dan pengabdian sudah berbeda, pribadi saya tidak akan pernah berubah. Jiwa saya tetap TNI, “dari rakyat untuk rakyat”. TNI berasal dari rakyat, mengabdi untuk rakyat. Dulu saya rakyat, jadi TNI, sekarang menjadi pamong, tetap berjuang untuk kepentingan rakyat, menegakkan NKRI, dan mengangkat citra TNI. Kawan-kawan TNI di daerah saya libatkan dalam berbagai kegiatan pemberdayaan rakyat, baik melalui program TMMD, KB Kesehatan, Brigade Tanam membantu Petani mengolah lahan pertanian, menanam, membasi hama wereng, maupun kegiatan pembangunan fisik yang perlu bantuan TNI untuk percepatan penyelesaian. Alhamdhulillah, berkat dukungan dan bantuan kawan-kawan TNI bersama masyarakat, pembangunan infrastruktur pedesaan berkembang baik, pertumbuhan penduduk Jawa Tengah 0,37% terendah nasional, wilayah Klaten yang lima kali masa tanam tidak bisa panen akibat diserang hama Wereng Batang Coklat (WBC) bisa panen untuk merayakan hari raya tahun 2011, dan beberapa kegiatan pembangunan jangka pendek bisa selesai tepat waktu. Dengan cara seperti itu, maka TNI tetap bisa dekat dan bekerja bersama rakyat, sehingga TNI tidak kehilangan rohnya, yaitu lahir dari rakyat, besar bersama rakyat, dan mengabdi untuk rakyat, bangsa dan negara.

 

Bali Ndeso Mbangun Deso2.jpg Konsep yang saya kembangkan dalam memimpin dan membangun Jawa Tengah, dengan melaksanakan gerakan Bali nDeso mBangun Deso, dengan sasaran pemberdayaan masyarakat Desa agar mampu mendayagunakan potensi sumber daya pembangunan Jawa Tengah, yang sebagian besar ada dan tersedia di desa-desa, baik itu sumberdaya manusia maupun sumber daya alam berbagai jenis yang perlu diolah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. 



New Picture.jpgPerhatian dan Sasaran Pembangunan Desa, antara lain dipengaruhi oleh pengalaman “njajah deso milangkori” keluar masuk hutan dan kampung ketika menjalani latihan fisik dan strategi maupun tugas perang menjalani gerilya ketika masih aktif tugas di jajaran TNI. Meski kemampuan terbatas dan sederhana, rakyat desa dengan tulus dan ikhlas membantu TNI, walau sebatas “Air Putih” untuk minum dan ubi bakar, jagung atau kacang untuk mengganjal berut lapar. Rumah sederhana berdinding anyaman bambu, beratap daun blarak, lantai tanah, terkadang bocor kehujanan menjadi becek. Itulah fakta kehidupan rakyat desa, terutama di pelosok-pelosok yang tidak tersentuh pembangunan, kondisinya memprihatinkan dan perlu pemberdayaan agar kehidupannya menjadi lebih layak. Sisi lain kontribusi riil rakyat Desa, mereka adalah pejuang-pejuang tangguh penyedia pangan untuk kehidupan umat manusia. Meski tubuh makin renta dan legam di sengat Matahari, meski peluh membasahi seluruh tubuh, meski hidup berteman cangkul dan bajak, meski hidup bertaruh di tengah deburan ombak mengancam jiwa, Saudara kita Petani dan Nelayan Desa dengan sabar dan tabah berjuang memenuhi kebutuhan hidup keluarga, bahkan juga untuk kita semua yang ada di kota-kota.

 


bali ndeso mbangund eso.jpgKondisi nyata di Jawa Tengah menunjukkan, 65% dari 32,38 juta jiwa penduduk Jawa Tengah berdomisili di pedesaan dan mayoritas menjalani karya usaha bertani, berkebun, memelihara ikan, beternak, menjadi perambah hutan, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan industri padat karya. Rakyat Desa perlu sentuhan dan fasilitasi bantuan, sehingga menjadi berdaya, produktivitas dan kesejahteraannya meningkat. Desa merupakan “meniatur negara”. Pemerintahan terkecil Indonesia terbagi berjuta-juta Desa. Apabila semua Desa berdaya, pembangunannya maju dan masyarakatnya sejahtera, maka semua Kabupaten/ Kota, Provinsi, bahkan Indonesia juga menjadi maju, sejahtera, aman, tenteram dan damai.

 

UMKM banyak digeluti Saudara kita di Desa, terbukti mampu bertahan di saat krisis ekonomi, bahkan kini tetap bidup dan berkembang bersama industri-industri padat karya lainnya yang juga berkembang di Desa.

 

Gerakan moral “Bali nDeso Bali nDeso menjadi perekat sosial yang sangat kuat, untuk menumbuhkan rasa empati, sikap peduli dan saling berbagi, sesuai dengan karakteristik dan budaya masyarakat Jawa Tengah yang suka bergotong-royong, saling tolong-menolong, dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi. Sebagai gerakan moral, Bali nDeso mBangun Deso mengajarkan : kepada yang sudah pandai menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, jangan segan memberikan ilmunya kepada Saudara kita di desa, agar bisa pandai dan berdaya dalam mendayagunakan sumber daya yang ada di desa, sehingga pembangunan di desa menjadi maju dan masyarakatnya sejahtera. Demikian pula bagi yang sudah kaya dan berkelebihan harta, jangan segan membantu hibah dana, modal usaha, dan pendampingan usaha, agar perekonomian masyarakat desa semakin tumbuh.

 

Gerakan moral, Bali nDeso mBangun Deso, sekaligus menjadi benteng yang tangguh untuk memberi kekuatan kepada masyarakat Jawa Tengah, agar tidak mudah terpe- ngaruh oleh penetrasi budaya asing yang terbawa masuk dalam era globalisasi yang bebas tidak mengenal batas ruang dan waktu. Gerakan Bali nDeso mBangun Deso mendorong masyarakat Desa agar yakin terhadap kemampuan sendiri dan berani mandiri untuk mengolah potensi sumber daya pembangunan  yang ada di desa, untuk kemajuan pembangunan dan pe- ningkatan kesejahteraan masyarakat Desa, sehingga tidak menggantungkan diri kepada sumber daya pembangunan dari negara lain.

 

Untuk memberikan perkuatan gerakan Bali nDeso mBangun Deso jangan sampai goyah oleh terpaan kebebasan dan globalisasi, pada tanggal 15 Agustus 2011 saya canangkan Jawa Tengah sebagai “Benteng Pancasila” dengan menjadikan 5 Sila Pancasila sebagai landasan moral dan Undang-Undang Dasar 1945 menjadi landasan hukum dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jawa Tengah harus menjadi “Benteng Pancasila” dan tetap dalam situasi dan kondisi kehidupan masyarakat yang sejuk dan kondusif, karena fenomena kehidupan IPOLEKSOSBUD-HANKAM Nasional telah masuk dalam 4 (empat) jebakan krisis yang mengancam integritas dan dapat memporakporandakan kehidupan Indonesia, yaitu : Krisis Jatidiri, Krisis Ideologi, Krisis Karakter, dan Krisis Kepercayaan.

 

            Visi yang ingin dicapai dalam gerakan Bali nDeso mBangun Deso, yaitu : “Terwujudnya masyarakat Jawa Tengah yang semakin sejahtera, mandiri, berkemampuan dan berdaya saing tinggi”.

 

Untuk mencapai Visi, dengan melaksanakan 6 (enam) Misi.

Misi ke-1 : Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan profesional serta sikap responsif aparatur. Menerapkan prinsip perencanaan yang matang, pelaksanaan yang mantap, dan pengawasan yang ketat. Apabila pemerintahan bersih dan bebas KKN, maka konsep perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasi pembangunan akan bersih, baik, dan bebas dari penyimpangan atau korupsi. Disamping bersih dan bebas KKN, aparatur pemerintah juga harus profesional dalam pelak- sanaan tugas, sehingga pelaksanaannya tepat jumlah, tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat manfaat. Selain itu, juga harus memiliki sikap responsif, cepat dan tepat mengambil langkah solusi terhadap aspirasi rakyat serta kondisi yang akan dan sedang terjadi, sehingga jangan sampai menghambat jalannya pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.

 

Misi ke-2 : “Pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan intensifikasi pertanian dalam arti luas, UMKM, dan industri padat karya”. Misi ke-2 menjadi prioritas, karena potensi kegiatan ekonomi kerakyatan di desa ada pada Misi ke-2 dan menjadi mayoritas karya usaha masyarakat Jawa Tengah.

 

Misi ke-3 : “Memantapkan kondisi sosial budaya yang berbasiskan kearifan lokal”.

Mencakup sektor pendidikan, kesehatan dan KB, agama, perumahan, pemberdayaan perem- puan dan perlindungan anak, tenaga kerja, pariwisata, dan sosial kemasyarakatan.

 

Misi ke-4 : “Pengembangan sumber daya manusia berbasis kompoetensi secara berkelanjutan”.

Melalui pemberdayaan Balai Latihan Kerja Provinsi dan Kabupaten/Kota serta dukungan stakeholders dalam penyediaan sarana pelatihan untuk mempersiapkan tenaga terampil yang siap memasuki pasar kerja, dan diharapkan dapat mengangkat derajat hidup masyarakat.

 

Misi ke-5 : “Peningkatan perwujudan pembangunan fisik dan infrastruktur”

Menjadi penunjang utama Misi ke-2 untuk meningkatkatkan akses dan kemudahan transportasi barang dan jasa melalui darat, laut, dan udara, dengan prioritas pembangunan jalan usaha tani, jalan desa jalur ekonomi kerakyatan, revitalisasi dan pembangunan jalan antar Kabupaten/Kota, pembangunan jalan tol, bandara, pelabuhan laut, dermaga, serta sistem irigasi, waduk dan embung.

Pembangunan infrastruktur dilakukan dengan komitmen kualitas, akuntabel, taat azas, dan sesuai prosedur, tanpa mark-up.

 

Misi ke-6 : “Mewujudkan kondisi aman dan rasa aman dalam kehidupan masyarakat”.

Memperkuat sistem keamanan lingkungan untuk menjaga kondusivitas wilayah, untuk meningkatkan peluang investasi dan memberikan kenyamanan serta ketenteraman masyara- kat agar dapat menjalani kehidupan dengan lancar dan kesejahteraannya semakin meningkat.

 

Pelaksanaan 6 (enam) Misi dibagi menjadi 3 (tiga) Tahap :

 

Tahap I tahun 2008-2009, merupakan tahap konsolidasi dan penataan konsep pembangunan Jawa Tengah. Berhasil menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D) tahun 2008-2013 yang dijabarkan dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) setiap tahun pembangunan. Beberapa program pembangunan yang dilaksanakan, hasilnya positif dan ditingkatkan pada Tahap II.

 

Tahap II tahun 2010-2011, merupakan tahap percepatan dan prioritas sasaran. Pembangun- an semua sektor dilakukan percepatan sesuai dengan prioritas masing-masing untuk diting- katkan kuantitas serta kualitas hasilnya. Capaian pembangunan Tahap I sejak Agustus 2008 hinggga akhir Tahap II bulan Desember 2011, menunjukkan indikasi adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah. Indikatornya, dapat dilihat antara lain dari pertumbuhan ekonomi meningkat dari tahun ke tahun, inflasi semakin rendah, ketahanan pangan sangat kuat, surplus beras dan Nilai Tukar Petani (NTP) bertambah, kualitas pendidikan dan derajat kesehatan masyarakat meningkat, pengangguran dan kemiskinan menurun.

 

            Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tahun 2008 sebesar 3,9%, tahun 2009 meningkat menjadi 4,7%, tahun 2010 bertambah lagi menjadi 5,8%, tahun 2011 meningkat menjadi 6,01%, sedangkan target tahun 2012 sebesar 6,25% - 6,75%.

 

             Inflasi tahun 2008 sebesar 9,55%, tahun 2009 turun menjadi 3,32%. Tahun 2010 inflasi Jateng naik menjadi  6,88% disebabkan kenaikan harga komoditas kebutuhan masyarakat, terutama cabe merah, cabe rawit, minyak goreng, dan jeruk. Pada tahun 2011 inflasi Jawa Tengah turun menjadi 2,68%, di bawah inflasi nasional 4,79%. Sedangkan target tahun 2012 sebesar 4%-6%.

 

Text Box: PekalonganText Box: BanjarnegaraText Box: BloraText Box: JATENG

Ketahanan Pangan sangat kuat, ditunjukkan dari Peta Ketahanan Pangan Jawa Tengah di 34 Kabupaten/ Kota berwarna hijau tua yang berarti sangat kuat dan 1 Kabupaten Brebes berwarna hijau muda yang berarti ketahanan pangannya kuat.

 

             Gudang dolog.jpgProduksi Beras mengalami surplus yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 surplus beras 2,4 juta ton, tahun 2009, surplus beras mencapai 2,6 juta ton, dan tahun 2010 surplus beras meningkat menjadi 2,9 juta ton. Bahkan Jawa Tengah mampu memberi kontribusi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sebesar 16%. Tahun 2011, produksi beras Jawa Tengah turun menjadi 2,6 juta ton, akibat iklim ekstrim kemarau panjang, sehingga masa tanam mundur dan panen raya mulai Januari – April 2012. Sedangkan target tahun 2012 sebesar 2,9 juta ton.

Dengan meningkatnya kuantitas dan kualitas produksi beras, mendorong peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP). Pada tahun 2008 NTP Jawa Tengah sebesar 99,77, tahun 2009, meningkat menjadi 100,03, masih di atas angka NTP Nasional 98,58. Tahun 2010, meningkat lagi menjadi 103,12 (atau naik 3,09). Tahun 2011, NTP Jawa Tengah naik lagi menjadi 106,62%. Target Tahun 2012 sebesar 107,84%.

Kualitas Pendidikan meningkat, antara lain dapat dilihat dari capaian hasil kelulusan ujian nasional tahun pelajaran 2009/2010 untuk SMA/SMALB/MA/SMK 98,673  dan SMP/SMPLB/MTs 98,987 sehingga Jawa Tengah mendapat predikat sebagai Provinsi Putih. Pada tahun pelajaran 2010/2011, hasil kelulusan ujian nasional mengalami kenaikan, yaitu untuk SMA/SMALB/MA/SMK 99,706  dan SMP/SMPLB/MTs 99,046.

 

Derajat Kesehatan masyarakat membaik, dapat dilihat dari Usia Harapan Hidup (UHH) pada tahun 2008 tercatat 71,1 tahun, dan pada tahun 2010 naik menjadi 72 tahunAngka Kematian Bayi (AKB) megalami penurunan. Tahun 2008 jumlah AKB sebesar 9,17 per 1.000 kelahiran hidup turun menjadi 10,30 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2009. Tahun 2010 naik menjadi 10,62 per 1.000 kelahiran hidup dikarenakan masih banyaknya ibu hamil mengalami kondisi kurang energi kalori protein dan tingginya kasus Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Pada tahun 2011 ditargetkan sebesar 9,10 per 1.000 kelahiran hidup.


Pada Tahun 2010 Angka Kematian Ibu (AKI) tercatat 104,97 per 100.000 kelahiran hidup lebih baik dibanding Tahun 2009 sebesar 114 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2011 ditargetkan 100 per 100.000 kelahiran hidup. Presentase gizi buruk pada Tahun 2010 sebesar 0,08 lebih baik dibandingkan Tahun 2009 sebesar 0,16 dan juga lebih baik dari target Nasional sebesar 3%. Di bidang keluarga berencana, pengendalian pertumbuhan penduduk melalui program KB berhasil baik, dengan pertumbuhan tahun 2010 0,84% dan tahun 2011 pertumbuhan penduduk Jawa Tengah turun menjadi 0,37%  (terendah nasional).

 


 
KB.jpg
Demikian pula angka pengangguran terus menurun. Tahun 2008 jumlah pengangguran sebanyak 1,227.308 orang (7,35%), tahun 2009 menurun menjadi 1.252.267 orang (7,33%), tahun 2010 turun lagi menjadi 1.046.883 orang (6,21%), dan tahun 2011 dari target penurunan 5,50%, pada Agustus 2011 penurunan jumlah pengangguran sudah mencapai 1.000.000 orang (5,93%).

 

 
Jumlah penduduk miskin juga turun. Tahun 2008 jumlah penduduk miskin sebanyak 6,190 juta orang (19,23%), tahun 2009 menurun menjadi 5,726 juta orang (17,72%), tahun 2010 turun lagi menjadi 5,369 juta orang (16,56%), dan tahun 2011 dari target penurunan 15-16%, pada Maret 2011 penurunan jumlah penduduk miskin sudah mencapai 5,107 juta orang  (15,76%).

 

 

 Penghargaan.jpgSelama 3 tahun 4 bulan implementasi Tahap I sejak Tahun 2008 hingga selesai Tahap II bulan Desember 2011 Gerakan Bali nDeso mBangun Deso, sebanyak 65 penghargaan nasional, dan 1 (satu) penghargaan internasional diraih Jawa Tengah yaitu International Criminal Investigative training Assistance Program (ICITAP) atas Penggunaan Standar Sistem Manajemen Keadaan Darurat saat penanggulangan bencana letusan Gunung Merapi. Bahkan penghargaan tertinggi dari Negara Indonesia, yaitu : BINTANG MAHA PUTERA UTAMA juga telah diserahkan langsung oleh Presiden RI dan diterima Gubernur Jateng atas nama seluruh masyarakat Jawa Tengah pada tanggal 12 Agustus 2011.

 

Tahap III tahun 2012-2013, merupakan tahap perwujudan Visi, dengan melakukan ningkatan capaian yang telah berhasil diperoleh Misi Tahap II, yang masih kurang sempurna lebih disempurnakan, dan yang sudah baik lebih ditingkatkan. Dalam masa pelaksanaan Tahap III, tanggal 22 Februari 2012 Gubernur Jawa Tengah menerima penghargaan nasional Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Predikat B (Baik) tahun 2011 dari Menteri Negara Pendayagunaan Apartatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

 

 

Semoga Tuhan selalu bersama kita ...Aamiin.