BOYOLALI – Kasus penyakit HIV/AIDS terus mengintai wilayah Boyolali, dengan kembali ditemukan satu penderita yang berjenis kelamin laki-laki. Sejak seminggu lalu dia menjalani perawatan di ruang isolasi Rumah Sakit Umum (RSU) Pandanarang, dan Tim dokter memantau ketat kondisi kesehatannya.

 

Pasien HIV/AIDS tersebut,  Kamis (15/3) lalu, dijenguk Wakil Bupati Boyolali, Agus Purmanto. Dalam kesempatan itu, wakil bupati meminta pasien untuk bersabar dalam menghadapi penyakitnya dan menyerahkan semuanya ke tim medis yang merawatnya.

 

Direktur RSU Pandanarang, dokter Endang Sriwidati, mengatakan bahwa pasien itu pada awal mula nya sakit batuk. Dia sudah berobat ke dokter, namun tidak juga sembuh. Selanjutnya, dia berobat ke dokter swasta yang juga memiliki poliklinik rawat inap. Oleh dokter, pasien itu diminta untuk menjalani rawat inap. Saat itulah, dia dicurigai menderita AIDS.

 

Selanjutnya, pasien dirujuk ke RSU Dr Moewardi, Solo. Berdasarkan hasil tes darah, ternyata dipastikan positif menderita AIDS. Hanya saja, keluarga pasien meminta pulang paksa karena terkendala biaya. Pihak keluarga mengajukan perawatan dengan menggunakan fasilitas Jamkesda sehingga kemudian disarankan untuk dirawat ke RSU Pandanarang milik Pemkab Boyolali.

 

Tim dokter, lanjut Endang, juga berusaha mengetahui riwayat kesehatan pasien. Namun demikian, untuk memberitahu kondisinya, tim tak bisa gegabah. Pemberitahuan bakal dilakukan tim khusus, termasuk saran tentang upaya menjaga kesehatan selanjutnya. Pasalnya, penderita HIV/AIDS harus rajin berobat, bahkan harus mengonsumsi obat seumur hidup. “Kami memberikan fasilitas Jamkesmas untuk mengkover biaya perawatan dan obatan- obatan,” ujarnya.

 

Pasien tersebut bukan satu-satunya penderita HIV/AIDS yang dirawat di RSU Pandanarang. Bulan Februari, bahkan rumah sakit itu membantu persalinan seorang wanita penderita HIV.  Persalinan dilakukan melalui operasi. Dokter dan perawat harus menggunakan peralatan dan alat pengaman diri atau baju seragam sesuai ketentuan.

 

“Kami tahu kalau pasien itu menderita HIV berdasarkan rujukan Puskesmas," kata Endang. Yang membuat trenyuh, bayi yang dilahirkan pun ternyata juga positif HIV. Demikian pula anak pertamanya yang masih balita juga dinyatakan positif. Namun, ternyata sang suami justru negatif. “Kami bersama tim Puskesmas dan bidan desa terus memantau kondisi kesehatan pasien itu, termasuk kedua anaknya," imbuhnya.

 

Kepala Dinas Kesehatan Boyolali dr Syamsudin mengatakan, sejak 2005–2010 telah mendampingi sedikitnya 29 penderita AIDS. Dari jumlah itu, 19 penderita di antaranya meninggal dunia.

 

Temuan kasus AIDS terbaru hingga 31 Desember 2011, terdapat 20 penderita dan sembilan di antaranya telah meninggal dunia. ”Kebanyakan usia produktif yang sebagian besar adalah wanita. Dua penderita adalah anak-anak,” ujarnya. Jika tiga tahun lalu proses penyebaran melalui injection drug use (jarum suntik obat terlarang), kini 90% disebabkan hubungan seksual heterogen.  **contributor humas Boyolali**